Laman

Rabu, 11 Juli 2012

Cinta itu Tak Terduga, Kadang Kekanak-kanakan dan Paling Tidak Rasional

Kawan, entah apa yang telah terjadi pada diriku. Yang pasti
semenjak aku melihat seorang gadis, aku dilanda kotradiksi perasaan.
Bahagia sekaligus menderita, senang sekaligus sedih, rindu sekaligus
ragu, takut sekaligus mengharap, malu tapi mau, acuh tapi menunggu.
Perasaan-perasaan itu timbul tenggelam, datang dan pergi sesuka hati,
diam-diam, mengendap-endap dalam kesunyian.
Gadis itu penghuni baru di lingkungan kostsanku. Kau tahu,
semenjak pertama kali aku melihatnya, semenjak itu aku sering terpaku menatap pintu kamarnya.
Aku berharap pintu itu terkuak dan dia muncul dengan seuntai senyum mengembang. Senyum
manis, semanis kembang gula. Aku harap senyum itu untukku. Cukup sekali saja dia tersenyum
kepadaku, cukup sekali sepanjang hidup, cukup sekali setiap hari. Biarlah tak mengapa.
Kawan, kamu boleh percaya boleh tidak sebuah pintu ternyata dapat menyiksa perasaan
seseorang sedemikian rupa. Itu terjadi padaku. Saat pintu kamarnya tidak terbuka untuk beberapa
lama, selama itu juga aku disiksa oleh kegelisahan yang tak jelas ujung-pangkalnya. Kegelisahan
itu baru mau minggat setelah pintu itu terbuka dan dia muncul dari dalam kamar. Aduh..hatiku
senang tak terbilang. Padahal aku tahu, siapapun tahu, bahkan cicak di dinding pun tahu dia
keluar dari dalam kamar dalam rangka mengangkat jemuran karena hari turun hujan. Sama sekali
tidak ada sangkut-pautnya dengan diriku.
Soal pintu tadi, kamu tentu tahu bukan pintu tapi si gadislah yang aku tunggu-tunggu.
Pertanyaannya, buat apa? Kenyataannya pada saat ia lewat di depanku sama sekali tidak ada
yang aku lakukan. Sama sekali tidak ada kecuali acuh tak acuh, pura-pura tidak melihat, purapura
tidak perduli padahal ketika aku menunggu tadi aku gelisah setengah mati.
Nama gadis itu? Kemuning. Ah, sebenarnya itu nama gelar saja. Kebetulan waktu aku
melihatnya untuk pertama kali baju yang ia kenakan berwarna kuning. Adapun nama asli gadis
itu sampai sekarang aku belum tahu.
Kamu boleh menertawakan aku, tertawalah sepuasmu. Kenyataan siang malam aku
memikirkan seorang gadis yang belum aku kenal bahkan sekedar namanya. Padahal orang itu,
gadis itu belum tentu sekalipun pernah memikirkan aku. Kenyataan itu memang pantas untuk
ditertawakan. Tapi seperti di muka telah aku katakan kepadamu, semenjak aku melihatnya hatiku
dilanda kontradiksi perasaan. Aku mau mengajaknya berkenalan tapi aku malu untuk
mengatakannya. Aku berharap dapat mengenalnya lebih dekat tapi aku takut untuk memulainya.
Kawan, Tuhan itu maha pemurah. Berkali-kali Ia memberi kesempatan kepadaku untuk
mendekati si gadis, setidak-tidaknya sebagai langkah pertama untuk berkenalan. Tapi aku
dihadapan gadis itu macam maling ayam di hadapan polisi, gugup, cemas, gelisa, grogi, mau
ngomong takut salah. Berkali-kali Tuhan memberi kesempatan kepadaku, berkali-kali juga aku
menyia-nyiakannya. Mungkin Tuhan marah kepadaku atau mungkin Tuhan tidak marah, tapi
hanya menertawakan kebodohanku.
Kawan sekarang aku ingin bertanya kepadamu. Tahukah kamu apa yang sedang terjadi
pada diriku ini?
Benarkah yang kamu katakan kawan? Benarkah aku sedang jatuh cinta? Seperti inikah
rasanya orang jatuh cinta? Kalau benar aku sedang jatuh cinta, lalu apa yang harus aku lakukan?
Haruskah aku katakan pada gadis itu? Lalu bagaimanakah caranya? Seperti inikah.... aku ketuk
pintu kamarnya, saat ia muncul aku berlutut di depannya menirukan gaya seorang pangeran
bangsa Romawi yang sedang menyunting seorang putri seperti yang pernah aku lihat di sebuah
film di layar televissi. Kemudian pada gadis itu kupersembahkan setangkai kembang melati
sambil berkata ”wahai dikau wanita yang aku puja, yang entah siapa namanya, kepadamu sunggu
aku jatuh cinta”.
Aduh, kok ya jadi aneh. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba aku muncul di
depannya dan mengatakan perasaanku. Si gadis tentu melongo sambil bertanya ”siapa lu?”. iya
kalau Cuma itu, lah kalau ia tiba-tiba kena serangan jantung, syok berat kemudian masuk UGD.
Bisa-bisa aku masuk bui didakwa melakukan tindak pidana percobaan pembunuhan. Bisa hancur
masa depanku.
Kawan, setrategi pertama yang di atas itu resikonya terlalu berat. Aku tak mau hanya
karena soal mengungkapkan perasaan, aku harus berurusan dengan polisi apalagi, sampai masuk
bui. Melalui telepon jelas tidak mungkin, darimana aku dapatkan nomor HP-nya. Bagaimana
kalau melalui surat? Iya melalui surat. Nah sebenarnya diam-diam sebuah surat telah aku buat
untuk gadis itu. Kawan kamu mau tahu isi surat itu? Ini biar aku bacakan.....

Dengan penuh semangat balas dendam aku tulis surat ini untukmu
Tanpa basa-basi
Coba tebak siapakah orang yang paling aku benci? Kalau kamu bertanya, tanpa ragu, tak
perlu berpikir dua akan aku jawab dengan pasti ”kamu”.
Kenapa? Kenapa katamu! Tidakkah kamu pernah berpikir betapa kurang ajarnya dirimu.
Coba bayangkan, di tengah malam buta, di saat semua orang sedang terlelap dalam buaian mimpi
indah, kamu, ya kamu. Kamu mengendap-endap bagai garong menyelinap di ketenangan hatiku,
seenaknya berkeliaran di benakku, mengobrak-abrik pikiranku, merampok waktu istirahatku.
Bagaimana aku tidak senewen. Kelakuanmu yang seperti garong itu kamu ulangi berkalikali,
lagi, lagi dan lagi. Di setiap malam tanpa rasa belas kasihan. Entah dosa apa yang telah aku
lakukan? Entah apa salahku kepadamu hingga kau berbuat kejam seperti itu?
Dan ini puisi kutulis untukmu
DASAR MALING
Kamu yang mengendap-endap di tengah malam buta
Menyelinap di ketenangan hatiku
Berkeliaran di dalam benakku
Mengobrak-abrik pikiranku
Merampok waktu istirahatku
Pada saat mentari pagi tiba
Pada saat itu aku sadari
Hatiku telah kamu curi
Malam ini aku sudah siap berjaga-jaga
Tak mau aku kecolongan untuk yang kedua kalinya
Kututup rapat semua pintu dan jendela ruang hatiku
Tapi entah bagaimana caranya
Di pagi hari berikutnya kembali aku sadari
Kini jiwaku yang kamu curi
Malam ketiga, aku lebih waspada dari sebelumnya
Kubacakan do’a dan mantra-mantra
Kutaburkan kembang tujuh rupa
Tak lupa dupa dan kemenyan aku bakar
Belajar dari pengalaman dua malam sebelumnya
Aku hampir yakin kamu sejenis jin atau siluman
Tapi apa yang terjadi....
Mungkin ini sudah suratan nasibku
Atau barangkali karena do’a dan mantra yang aku baca tadi malam salah
Boleh jadi kamu lebih sakti dari yang aku kira
Nyatanya pagi ini kembali aku sadari
Sekarang cintaku yang kamu curi
Dasar maling!!!!
Kau dengar itu kawan? Begitulah surat yang telah aku buat. Seperti itulah surat yang
ditulis oleh orang yang mendapatkan nilai 5 pada matapelajaran bahasa Indonesianya. Tidak
gaya apalagi romantis. Kemungkinan besar surat itu dirobek-robek kemudian dibuang di tempat
sampah. Boro-boro gadis itu akan terpikat hatinya setelah membaca suratku. Yang ada aku
dicaci-makinya sepanjang malam. Makanya surat itu tidak pernah aku kirimkan.

Keesokan harinya....
Kawan, tahukah kamu sekarang aku sedang merana
dalam duka. Belum sempat aku merasakan manisnya
cinta kini, aku telah patah hati. Bagaimana tidak, belum
sempat aku mengutarakan isi hatiku, si gadis telah pergi,
minggat entah kemana. Hancur hatiku dibuatnya. Hancur
berantakan, berkeping-keping, berserakan. Kejam nian
gadis itu. Atau akulah yang teramat bodoh, kenapa tidak
aku utarakan isi hatiku selagi ada kesempatan.

Sementara itu di dinding, di sebuah kamar dua ekor cicak sedang berbincang-bincang
satu dengan yang lainnya.
Cicak 1: Kau lihat laki-laki yang di sana itu?
Cicak 2: Iya, memang kenapa?
Cicak 1: dari kemarin aku perhatikan di berbicara dengan sebuah gitar. Kasihan benar
anak-cucu Adam yang satu itu, masih muda sudah gila
Cicak 2: kamu salah kawan. Dia tidak gila, kalau sedang tergila-gila mungkin.


Tamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar