Laman

Rabu, 18 Juli 2012

PRASANGKA


Masih terbayang jelas dalam ingatanku. Terpatri di dalam benakku. Bagaimana dulu ayah mengamuk, memecahkan semua yang bisa dipecahkan, melempar semua yang bisa dilempar, semampu yang ia bisa. Ruang tamu tempat kami biasa bercengkerama dengan penuh suka-cita dengan gilang-gemilang diporak – porandakan oleh ayahku. Guci yang dibeli dua hari yang lalu hancur berserakan di lantai. Foto perkawinan kedua orangtuaku terdampar di bawah kolong meja bangkai dan kacanya pecah terbela. Pernak – pernik hadiah ulang tahunku pun tidak luput dari amukan ayahku, berhamburan kesegala arah. Ruang tamu keluarga kami bagai diterjang gelombang Tsunami.
Di hadapan ayah, ibuku hanya diam, ya hanya diam. Tapi kedua bola matanya merah menyala, dadanya turun – naik, nafasnya memburu, tubuhnya gemetar. Dari ekspresi wajahnya aku tahu ibu tidak sedang ketakutan. Sama seperti ayah, ibu sedang dikuasai amarah yang meluap – luap. Entah apa yang membuat ibu bisa bertahan untuk tidak melampiaskan  amarahnya.
Sementara itu aku, anak mereka yang baru berusia 11 tahun hanya bisa menyaksikan dengan ketakutan. Tubuhku gemetar, kedua tanganku memeluk erat pintu kamarku, dadaku sesak dan hatiku remuk. Sungguh aku tidak menangis hanya air mata mengalir deras dari kedua bola mataku.
Sebelum peristiwa itu terjadi, kehidupan kami cukup bahagia. ayah bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta. Sedang ibu, menjadi Ibu rumah tangga mengurus aku, anak satu – satunya. Secara ekonomi, gaji ayahku lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan kami. Walau tidak bisa disebut sebagai orang kaya, tidaknya kami tidak pernah merasa kekurangan. Kadang kala pada hari minggu, terutama saat ayah baru gajian, kami sekeluarga pergi jalan – jalan ke taman hiburan.
Keadaan mulai berubah ketika ayah mendapat promosi kenaikan jabatan. Mulai pada saat itu ayah jadi sering pulang malam. Biasanya pukul 5 sore ayah sudah ada di rumah. Setelah naik jabatan, ayahku baru pulang pukul  8 malam. Bahkan pernah tidak pulang sama sekali. Begitu juga sikapnya kepadaku. Sebelumnya, setelah pulang kerja, ayah menyempatkan diri untuk menanyakan bagaimana sekolahku, teman – temanku, pelajaranku atau menemaniku saat aku mengerjakan PR. Kini setelah pulang dari kantor ayah langsung mandi kemudian pergi tidur. Pendek kata aku merasa kehilangan ayahku sendiri. Ada tapi seakan tak peduli.
Sebatas itulah yang bisa aku ingat. Seingatku, setelah amuk ayah, aku tinggal hanya dengan ibuku seorang. Sampai aku tumbuh menjadi seorang gadis, tumbuh dewasa dan setelah berpacaran selama dua tahun, aku dipinang sebagai istri oleh pacarku. Bukan kebetulan kalau aku teringat pada peristiwa pertengkaran kedua orangtuaku. Karena sekarangpun aku sedang bertengkar dengan suamiku.
***
Istriku oh Istriku
Sudah tiga hari aku bertengkar dengan istriku. Masalahnya sederhana saja, setidaknya pada awalnya. Masalahnya ia terlalu perhatian kepadaku. Saking perhatiannya aku merasa ia terlalu protektif. Kalau tidak mau dibilang posesif. Pada saat aku di kantor, pada jam kerja, ia menelponku. Sesekali menurutku sih sah – sah saja sebagai bentuk perhatian. Tapi kalau terlalu sering aku menjadi merasa diawasi. Belum lagi karena itu atasanku sempat menegurku.
Seorang sahabat menasehatiku, bahwa yang dilakukan istriku adalah sebagai  bentuk cintanya kepadaku. Sebagai bukti bahwa istriku sangat mencintaiku. Seharusnya aku bersyukur. Demikian nasehat sahabatku.
Mungkin sahabatku benar. Tapi … aku jadi teringat bagaimana dulu aku pernah berdo’a kepada Allah SWT supaya aku diberi istri yang mencintaiku melebihi kecintaanya kepada semua yang ada dijagat raya. Kalau memang do’aku dikabulkan oleh Tuhan  melalui istriku. Sekarang aku berharap supaya do’aku yang terlanjur dikabulkan agar dibatalkan saja. Sekarang cinta yang aku harapakan dari istriku cukuplah cinta sebatas yang aku perlukan. Cukup sekedar memenuhi kadarku sebagai manusia biasa. Karena sekarang aku baru tahu dicintai atau mencintai seseorang dengan kadar yang tidak semestinya akan berakibat kesengsaraan. Tidak jauh beda dengan terlalu banyak minum air akan membuat perut menjadi kembung.
Oke, masalah telpon masih bisa aku maklumi. Tapi ketika ia mulai mencurigaiku, saat aku telat pulang atau terpaksa pulang malam karena harus lembur, aku tidak bisa mentolerir sikap istriku lagi. Bayangkan saja, seharian aku membanting tulang, mencari rizki untuk keluarga kami, untuk anak kami bila suatu saat nanti kami dikaruniai anak. Pulang kerja dengan tubuh letih dan urusan – urusan kantor yang berjejalan di otakku, yang aku harapkan istriku menunggu di depan pintu kemudian menyambut kedatanganku dengan senyum manis mengembang. Tapi bukan senyum yang aku dapatkan, kedatanganku disambut oleh istriku dengan muka cemberut ditekuk – tekuk. Kemudian dicecarnya aku dengan pertanyaan yang penuh dengan kecurigaan; kenapa pulang telat? Lembur? Lembur kok hampir setiap hari?
Siapa orangnya yang mau diperlakukan seperti itu? Suami mana sih yang tidak marah diperlakukan seperti itu? Istri yang seharusnya bisa menjadi tempat berbagi keluh – kesah, istri yang seharusnya menjadi tempat mencari  kedamaian. Tapi istriku malah memberi bara api neraka.
Bicara tentang cemburu, seharusnya akulah yang lebih pantas untuk cemburu. Akhir – akhir ini istriku lebih sering bersolek. Coba untuk siapa ia bersolek? Aku sendiri seharian berada di kantor. Sedikit – banyak aku jadi curiga. Jangan – jangan istriku seperti bunyi pepatah: lempar batu sembunyi tangan atau maling teriak maling. Dan ketika tadi pagi sebelum berangkat kerja aku tanyakan, ia sama sekali tidak menjawab. Dari bola matanya bisa aku lihat ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku.
***
Suamiku oh Suamiku
Pernah aku dengar ada yang  bilang wanita adalah makhluk yang paling susah untuk dimengerti. Menurutku, laki – lakilah yang paling susah untuk dipahami. Bagaimana tidak, perhatian yang selama ini aku berikan dengan sepenuh hati sebagai tanda cintaku, oleh suamiku diartikan lain. Saat aku menelpon ke kantor untuk menanyakan keadaannya dan untuk mengingatkan jangan sampai telat makan siang. Aku dituduhnya protektif. Saat aku bertanya kenapa terlambat pulang, dituduhnya aku cemburu buta, berprasangka yang tidak-tidak.
Cemburu? Cemburu itu manusiawi. Siapapun yang memiliki cinta pasti punya rasa cemburu. Bukankah cemburu bukti adanya cinta. Dan istri mana sih yang tidak merasa cemburu bila suaminya sering pulang malam.
Dia sendiri cemburu padaku. Katanya, sekarang aku lebih sering bersolek. Dia pikir untuk siapa aku bersolek? Tentu saja aku bersolek untuk suamiku sendiri. Ah, bukan maksudku untuk menyalahkan ibuku atas kepergian ayahku. Boleh jadi sedikit banyak ibu berperan atas kepergian ayah. Boleh jadi ayah pergi karena ibu kurang memberi perhatian dan kurang berdandan. Cukup sering terjadi seorang suami berlabuh ke lain hati karena istrinya tidak secantik waktu mereka masih pacaran. Bukan karena sang istri cepat menua. Tapi karena sang istri mengabaikan penampilan dirinya. Dia pikir, setelah menikah tidak perlu lagi berdandan, mempercantik diri. Kalau aku, jangankan bersolek bila perlu untuk mencegah suamiku   kepincut perempuan lain, aku mau melakukan operasi plastic agar lebih menarik.
***
Istriku Oh Istriku
Pukul 9 malam aku baru bisa pulang kerja. Bergegas sepeda motor kupacu, melaju dengan kecepatan 80 km/jam. Entah kenapa hatiku gelisah. Bayangan istriku menari – nari di benakku.
Tiba – tiba dari arah samping kananku melesat sebuah cahaya. Sial!
***
Suamiku oh Suamiku
Jam dinding di ruang tamu menunjukan pukul 10. Malam semakin larut. Aku gelisah menunggu kepulangan suamiku.
Tok! Tok! Tok! Terdengar pintu rumahku diketuk. Itu pasti suamiku.
***
Istriku Oh Istriku
Aku telah sampai di rumah ketika kudapati istriku berdiri dengan tubuh gemetar. Kedua mata dan pipinya basah oleh air mata. Sedang dihadapanya berdiri dua orang polisi.
“Bapak pasti salah” kata isriku dengan suara serak.
“Tidak bu. Kami tahu dari kartu identitasnya. Kami ikut berduka – cita. Sekarang jenazah suami ibu ada di Rumah Sakit”demikian kata salah satu dari kedua polisi itu member keterangan.
Oh, sekarang aku baru ingat. Cahaya yang melesat waktu aku pulang tadi adalah cahaya dari sebuah mobil yang menyambar  tubuhku.
Air mata meleleh dari kedua mataku. Tidak, aku tidak menagisi kematianku. Aku menangis karena terharu. Bagaimana aku tidak terharu, pada saat kami sedang bertengkar, di sana, aku lihat disana, di meja ruang tamu sebuah lilin menyala diatas kue tart bersama sederet kalimat “ Selamat Ulang Tahun Perkawinan Kita  Yang Pertama”.


Jakarta, 7 Desember 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar