Masih
terbayang jelas dalam ingatanku. Terpatri di dalam benakku. Bagaimana dulu ayah
mengamuk, memecahkan semua yang bisa dipecahkan, melempar semua yang bisa
dilempar, semampu yang ia bisa. Ruang tamu tempat kami biasa bercengkerama
dengan penuh suka-cita dengan gilang-gemilang diporak – porandakan oleh ayahku.
Guci yang dibeli dua hari yang lalu hancur berserakan di lantai. Foto
perkawinan kedua orangtuaku terdampar di bawah kolong meja bangkai dan kacanya
pecah terbela. Pernak – pernik hadiah ulang tahunku pun tidak luput dari amukan
ayahku, berhamburan kesegala arah. Ruang tamu keluarga kami bagai diterjang
gelombang Tsunami.
Di
hadapan ayah, ibuku hanya diam, ya hanya diam. Tapi kedua bola matanya merah
menyala, dadanya turun – naik, nafasnya memburu, tubuhnya gemetar. Dari
ekspresi wajahnya aku tahu ibu tidak sedang ketakutan. Sama seperti ayah, ibu
sedang dikuasai amarah yang meluap – luap. Entah apa yang membuat ibu bisa
bertahan untuk tidak melampiaskan
amarahnya.
Sementara
itu aku, anak mereka yang baru berusia 11 tahun hanya bisa menyaksikan dengan
ketakutan. Tubuhku gemetar, kedua tanganku memeluk erat pintu kamarku, dadaku
sesak dan hatiku remuk. Sungguh aku tidak menangis hanya air mata mengalir
deras dari kedua bola mataku.
Sebelum
peristiwa itu terjadi, kehidupan kami cukup bahagia. ayah bekerja sebagai
karyawan di sebuah perusahaan swasta. Sedang ibu, menjadi Ibu rumah tangga
mengurus aku, anak satu – satunya. Secara ekonomi, gaji ayahku lebih dari cukup
untuk membiayai kehidupan kami. Walau tidak bisa disebut sebagai orang kaya,
tidaknya kami tidak pernah merasa kekurangan. Kadang kala pada hari minggu,
terutama saat ayah baru gajian, kami sekeluarga pergi jalan – jalan ke taman
hiburan.
Keadaan
mulai berubah ketika ayah mendapat promosi kenaikan jabatan. Mulai pada saat
itu ayah jadi sering pulang malam. Biasanya pukul 5 sore ayah sudah ada di
rumah. Setelah naik jabatan, ayahku baru pulang pukul 8 malam. Bahkan pernah tidak pulang sama sekali.
Begitu juga sikapnya kepadaku. Sebelumnya, setelah pulang kerja, ayah
menyempatkan diri untuk menanyakan bagaimana sekolahku, teman – temanku,
pelajaranku atau menemaniku saat aku mengerjakan PR. Kini setelah pulang dari
kantor ayah langsung mandi kemudian pergi tidur. Pendek kata aku merasa
kehilangan ayahku sendiri. Ada tapi seakan tak peduli.
Sebatas
itulah yang bisa aku ingat. Seingatku, setelah amuk ayah, aku tinggal hanya
dengan ibuku seorang. Sampai aku tumbuh menjadi seorang gadis, tumbuh dewasa
dan setelah berpacaran selama dua tahun, aku dipinang sebagai istri oleh
pacarku. Bukan kebetulan kalau aku teringat pada peristiwa pertengkaran kedua
orangtuaku. Karena sekarangpun aku sedang bertengkar dengan suamiku.
***
Istriku
oh Istriku
Sudah
tiga hari aku bertengkar dengan istriku. Masalahnya sederhana saja, setidaknya
pada awalnya. Masalahnya ia terlalu perhatian kepadaku. Saking perhatiannya aku
merasa ia terlalu protektif. Kalau tidak mau dibilang posesif. Pada saat aku di
kantor, pada jam kerja, ia menelponku. Sesekali menurutku sih sah – sah saja
sebagai bentuk perhatian. Tapi kalau terlalu sering aku menjadi merasa diawasi.
Belum lagi karena itu atasanku sempat menegurku.
Seorang
sahabat menasehatiku, bahwa yang dilakukan istriku adalah sebagai bentuk cintanya kepadaku. Sebagai bukti bahwa
istriku sangat mencintaiku. Seharusnya aku bersyukur. Demikian nasehat
sahabatku.
Mungkin
sahabatku benar. Tapi … aku jadi teringat bagaimana dulu aku pernah berdo’a
kepada Allah SWT supaya aku diberi istri yang mencintaiku melebihi kecintaanya
kepada semua yang ada dijagat raya. Kalau memang do’aku dikabulkan oleh
Tuhan melalui istriku. Sekarang aku
berharap supaya do’aku yang terlanjur dikabulkan agar dibatalkan saja. Sekarang
cinta yang aku harapakan dari istriku cukuplah cinta sebatas yang aku perlukan.
Cukup sekedar memenuhi kadarku sebagai manusia biasa. Karena sekarang aku baru
tahu dicintai atau mencintai seseorang dengan kadar yang tidak semestinya akan
berakibat kesengsaraan. Tidak jauh beda dengan terlalu banyak minum air akan
membuat perut menjadi kembung.
Oke,
masalah telpon masih bisa aku maklumi. Tapi ketika ia mulai mencurigaiku, saat
aku telat pulang atau terpaksa pulang malam karena harus lembur, aku tidak bisa
mentolerir sikap istriku lagi. Bayangkan saja, seharian aku membanting tulang,
mencari rizki untuk keluarga kami, untuk anak kami bila suatu saat nanti kami
dikaruniai anak. Pulang kerja dengan tubuh letih dan urusan – urusan kantor
yang berjejalan di otakku, yang aku harapkan istriku menunggu di depan pintu
kemudian menyambut kedatanganku dengan senyum manis mengembang. Tapi bukan
senyum yang aku dapatkan, kedatanganku disambut oleh istriku dengan muka
cemberut ditekuk – tekuk. Kemudian dicecarnya aku dengan pertanyaan yang penuh
dengan kecurigaan; kenapa pulang telat? Lembur? Lembur kok hampir setiap hari?
Siapa
orangnya yang mau diperlakukan seperti itu? Suami mana sih yang tidak marah
diperlakukan seperti itu? Istri yang seharusnya bisa menjadi tempat berbagi
keluh – kesah, istri yang seharusnya menjadi tempat mencari kedamaian. Tapi istriku malah memberi bara
api neraka.
Bicara
tentang cemburu, seharusnya akulah yang lebih pantas untuk cemburu. Akhir –
akhir ini istriku lebih sering bersolek. Coba untuk siapa ia bersolek? Aku
sendiri seharian berada di kantor. Sedikit – banyak aku jadi curiga. Jangan –
jangan istriku seperti bunyi pepatah: lempar
batu sembunyi tangan atau maling
teriak maling. Dan ketika tadi pagi sebelum berangkat kerja aku tanyakan,
ia sama sekali tidak menjawab. Dari bola matanya bisa aku lihat ada sesuatu
yang ia sembunyikan dariku.
***
Suamiku
oh Suamiku
Pernah
aku dengar ada yang bilang wanita adalah
makhluk yang paling susah untuk dimengerti. Menurutku, laki – lakilah yang
paling susah untuk dipahami. Bagaimana tidak, perhatian yang selama ini aku
berikan dengan sepenuh hati sebagai tanda cintaku, oleh suamiku diartikan lain.
Saat aku menelpon ke kantor untuk menanyakan keadaannya dan untuk mengingatkan
jangan sampai telat makan siang. Aku dituduhnya protektif. Saat aku bertanya
kenapa terlambat pulang, dituduhnya aku cemburu buta, berprasangka yang
tidak-tidak.
Cemburu?
Cemburu itu manusiawi. Siapapun yang memiliki cinta pasti punya rasa cemburu.
Bukankah cemburu bukti adanya cinta. Dan istri mana sih yang tidak merasa
cemburu bila suaminya sering pulang malam.
Dia
sendiri cemburu padaku. Katanya, sekarang aku lebih sering bersolek. Dia pikir
untuk siapa aku bersolek? Tentu saja aku bersolek untuk suamiku sendiri. Ah,
bukan maksudku untuk menyalahkan ibuku atas kepergian ayahku. Boleh jadi
sedikit banyak ibu berperan atas kepergian ayah. Boleh jadi ayah pergi karena
ibu kurang memberi perhatian dan kurang berdandan. Cukup sering terjadi seorang
suami berlabuh ke lain hati karena istrinya tidak secantik waktu mereka masih
pacaran. Bukan karena sang istri cepat menua. Tapi karena sang istri
mengabaikan penampilan dirinya. Dia pikir, setelah menikah tidak perlu lagi
berdandan, mempercantik diri. Kalau aku, jangankan bersolek bila perlu untuk
mencegah suamiku kepincut perempuan
lain, aku mau melakukan operasi plastic agar lebih menarik.
***
Istriku
Oh Istriku
Pukul
9 malam aku baru bisa pulang kerja. Bergegas sepeda motor kupacu, melaju dengan
kecepatan 80 km/jam. Entah kenapa hatiku gelisah. Bayangan istriku menari –
nari di benakku.
Tiba
– tiba dari arah samping kananku melesat sebuah cahaya. Sial!
***
Suamiku
oh Suamiku
Jam
dinding di ruang tamu menunjukan pukul 10. Malam semakin larut. Aku gelisah
menunggu kepulangan suamiku.
Tok!
Tok! Tok! Terdengar pintu rumahku diketuk. Itu pasti suamiku.
***
Istriku
Oh Istriku
Aku
telah sampai di rumah ketika kudapati istriku berdiri dengan tubuh gemetar.
Kedua mata dan pipinya basah oleh air mata. Sedang dihadapanya berdiri dua
orang polisi.
“Bapak
pasti salah” kata isriku dengan suara serak.
“Tidak
bu. Kami tahu dari kartu identitasnya. Kami ikut berduka – cita. Sekarang
jenazah suami ibu ada di Rumah Sakit”demikian kata salah satu dari kedua polisi
itu member keterangan.
Oh,
sekarang aku baru ingat. Cahaya yang melesat waktu aku pulang tadi adalah
cahaya dari sebuah mobil yang menyambar
tubuhku.
Air
mata meleleh dari kedua mataku. Tidak, aku tidak menagisi kematianku. Aku
menangis karena terharu. Bagaimana aku tidak terharu, pada saat kami sedang
bertengkar, di sana, aku lihat disana, di meja ruang tamu sebuah lilin menyala
diatas kue tart bersama sederet kalimat “ Selamat Ulang Tahun Perkawinan
Kita Yang Pertama”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar