Ingatlah do’a Adam pada Tuhan
Aku lemah dalam kesendirian
Ciptakan bagiku teman dalam kehidupan
Tuhanpun bersabda:
“Ini Kuambil satu, Kuciptakan satu dari tulang rusukmu”
Dengan sabda Tuhan Adam tercipta
Dengan sabda Tuhan Eva-pun ada
Andai kata bisa mewakili isi hati dan perasaan
Ketahuilah cintaku lebih dalam dari puisi dan sya’ir lagu
Kalau memang kau tercipta dari tulang rusukku
Salahkah aku mencintai bagian dari milikku
Jumat, 06 Agustus 2010
Kamis, 24 Juni 2010
PUISIKU
Puisiku puisi kehidupan
Bukan ucapan di ujung lidah
Bukan tulisan di atas kertas
Puisiku puisi kenyataan
Kata-katanya adalah perbuatan
Bahasanya adalah bahasa diam
Kutulis bait demi bait puisiku dengan gerak tubuh
Hurup-hurupnya adalah tatapan mata, debaran hati dan denyut nadi
Maka berbahagialah bagi siapapun yang dapat membaca puisiku
Karena diam adalah bahasa terdalam
Puisiku puisi kehidupan
Puisiku puisi kenyataan
Terberkatilah bagi siapapun yang dapat mengambil hikmah
Karena nanti di padang ma’syar puisiku akan dibacakan
Bukan ucapan di ujung lidah
Bukan tulisan di atas kertas
Puisiku puisi kenyataan
Kata-katanya adalah perbuatan
Bahasanya adalah bahasa diam
Kutulis bait demi bait puisiku dengan gerak tubuh
Hurup-hurupnya adalah tatapan mata, debaran hati dan denyut nadi
Maka berbahagialah bagi siapapun yang dapat membaca puisiku
Karena diam adalah bahasa terdalam
Puisiku puisi kehidupan
Puisiku puisi kenyataan
Terberkatilah bagi siapapun yang dapat mengambil hikmah
Karena nanti di padang ma’syar puisiku akan dibacakan
Jumat, 05 Maret 2010
KRIIING !
Kriiing ! dering telpon kuangkat
Ada kamu disana menyapa "Hallo"
Sudah setahun ini kau baru menghubungiku
"Ada apa?" aku bertanya
Ada kesedihan kutahu dari nada bicaramu
Kamupun bercerita
Tentang rumah tanggamu yang tak bahagia
tentang suami yang jarang pulang
Tentang nafkah lahir batin yang kekurangan
"Aku ingin cerai saja" katamu menangis terseduh
Dan dengan ibanya kamu berkata "aku ingin kembali padamu"
Setahun yang lalu, kaupun tahu
Betapa besar cintaku padamu
Betapa sakitnya hatiku saat kau pergi
Betapa hidup kurasa tak berarti
tapi sekarang segalanya telah berubah
Dan aku telah jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya
Ada kamu disana menyapa "Hallo"
Sudah setahun ini kau baru menghubungiku
"Ada apa?" aku bertanya
Ada kesedihan kutahu dari nada bicaramu
Kamupun bercerita
Tentang rumah tanggamu yang tak bahagia
tentang suami yang jarang pulang
Tentang nafkah lahir batin yang kekurangan
"Aku ingin cerai saja" katamu menangis terseduh
Dan dengan ibanya kamu berkata "aku ingin kembali padamu"
Setahun yang lalu, kaupun tahu
Betapa besar cintaku padamu
Betapa sakitnya hatiku saat kau pergi
Betapa hidup kurasa tak berarti
tapi sekarang segalanya telah berubah
Dan aku telah jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya
Selasa, 16 Februari 2010
RUANG HATI
Maukah kamu menunjukan jalan kepadaku
Jalan menuju ruang ajaib bernama hatimu
Yang aku tahu disana aku bisa meliahat luasnya dunia dan indahnya hidup
aku juga bisa mendengar nyanyian bidadari kecil dari
taman sorgawi
Lagunya tentang harapan dan cinta
Kalau aku telah sampai di sana, maukah kamu membukakan pintunya untukku
Tak perlu terburu-buru karena aku mau menunggu
Kalau masih ada ruang kosong, sebuah kamar atau tak apalah kalau yang tersisa hanya cela di ruang tamu
Izinkan aku untuk singgah, menginap atau tinggal untuk selamanya
Jalan menuju ruang ajaib bernama hatimu
Yang aku tahu disana aku bisa meliahat luasnya dunia dan indahnya hidup
aku juga bisa mendengar nyanyian bidadari kecil dari
taman sorgawi
Lagunya tentang harapan dan cinta
Kalau aku telah sampai di sana, maukah kamu membukakan pintunya untukku
Tak perlu terburu-buru karena aku mau menunggu
Kalau masih ada ruang kosong, sebuah kamar atau tak apalah kalau yang tersisa hanya cela di ruang tamu
Izinkan aku untuk singgah, menginap atau tinggal untuk selamanya
PESTA KAUM PECUNDANG
Kita kuliti kulit saudara sendiri
Kita minum darah, darah saudara kita
Jerit tangis adalah lagu dalam pesta, pesta kita
Mari tuan mari pesta baru saja dimulai
Selagi masih ada peluru, amis darah dan mesiu
Kesombongan kita tak akan musnah
Mari tuan mari
Nyanyikan lagu kematian
Untuk mereka yang mati
Untuk jiwa kita yang mati
Kita minum darah, darah saudara kita
Jerit tangis adalah lagu dalam pesta, pesta kita
Mari tuan mari pesta baru saja dimulai
Selagi masih ada peluru, amis darah dan mesiu
Kesombongan kita tak akan musnah
Mari tuan mari
Nyanyikan lagu kematian
Untuk mereka yang mati
Untuk jiwa kita yang mati
TERBELENGGU
Terbelenggu gerak jawaku
Oleh nafsu yang mengikat
Oleh cinta yang membutakan
Oleh segala keinginan
Mungkin mata hatiku telah buta
Oleh gemerlap warna dunia
Gemerlap yang melemahkan hasrat kejiwaan
Hasrat dari roh ketuhanan
Wahai diri aku bertanya
Sampai dimana engkau terlena
Akankah sampai waktunya tiba
Hingga engkau kembali menjadi tanah
Jiwaku yang malang terbelenggu sang badan
Menangis ia dalam penyesalan
Mengapa aku dijadikan
Aku, katanya
Ingin kembali dalam pangkuan
Dalam kesucian di hadapan Tuhan
Oleh nafsu yang mengikat
Oleh cinta yang membutakan
Oleh segala keinginan
Mungkin mata hatiku telah buta
Oleh gemerlap warna dunia
Gemerlap yang melemahkan hasrat kejiwaan
Hasrat dari roh ketuhanan
Wahai diri aku bertanya
Sampai dimana engkau terlena
Akankah sampai waktunya tiba
Hingga engkau kembali menjadi tanah
Jiwaku yang malang terbelenggu sang badan
Menangis ia dalam penyesalan
Mengapa aku dijadikan
Aku, katanya
Ingin kembali dalam pangkuan
Dalam kesucian di hadapan Tuhan
SERPIHAN RINDU
Sa’at kerinduan tiba-tiba datang tanpa dapat kutampik
Menyeruak masuk di lerung hati Tanpa permisi
Kepadamu, ya kepadamu
Semuanya terbayang jelas dalam ingatan
Tawamu, tawaku
Candamu, candaku
Sedihmu, sedihku
Marahmu, marahku
Tanpa memberi ruang bagi rasa benci dan dendam
Seolah-olah baru saja kemarin kita berjumpa
Dan sa’at kembali kusadari betapa sang waktu begitu cepat berganti
Adakah satu saja yang layak untuk kita kenang
Atau layak untuk kita banggakan
Sa’at kita muda, sa’at semua terasa begitu mudah
Pada sa’at kini kita merasa begitu tua
Ah betapa pilu hatiku, kenapa sang waktu tak mau menunggu
Jakarta, 15 February 2010
Rindu ini bahasa hati
Benih cinta dari timbunan sejarah
Andai saja sang waktu mau berbalik arah
Akan kupahat ornamen-ornamen indah di dinding sejarah
Dan pada sa'atnya nanti akan aku ceritakan pada dunia
Yang baik-baik tentangmu
Yang indah-indah tentang kita
Biar semua tahu, betapa sangat berartinya dirimu bagiku
Jakarta, 16 February 2010
Sahabat, kutulis puisi ini untukmu
Sebagai panggilan jiwa, pelepas kerinduan
Sebagai kabar berita, masih ada namamu di hatiku
Dan 'kan selalu kujaga di sepanjang masa, di sisa umurku
Dan pada sa'atnya nanti kuingin kembali bertemu
Denganmu, ya denganmu
Jakarta, 17 February 2010
Menyeruak masuk di lerung hati Tanpa permisi
Kepadamu, ya kepadamu
Semuanya terbayang jelas dalam ingatan
Tawamu, tawaku
Candamu, candaku
Sedihmu, sedihku
Marahmu, marahku
Tanpa memberi ruang bagi rasa benci dan dendam
Seolah-olah baru saja kemarin kita berjumpa
Dan sa’at kembali kusadari betapa sang waktu begitu cepat berganti
Adakah satu saja yang layak untuk kita kenang
Atau layak untuk kita banggakan
Sa’at kita muda, sa’at semua terasa begitu mudah
Pada sa’at kini kita merasa begitu tua
Ah betapa pilu hatiku, kenapa sang waktu tak mau menunggu
Jakarta, 15 February 2010
Rindu ini bahasa hati
Benih cinta dari timbunan sejarah
Andai saja sang waktu mau berbalik arah
Akan kupahat ornamen-ornamen indah di dinding sejarah
Dan pada sa'atnya nanti akan aku ceritakan pada dunia
Yang baik-baik tentangmu
Yang indah-indah tentang kita
Biar semua tahu, betapa sangat berartinya dirimu bagiku
Jakarta, 16 February 2010
Sahabat, kutulis puisi ini untukmu
Sebagai panggilan jiwa, pelepas kerinduan
Sebagai kabar berita, masih ada namamu di hatiku
Dan 'kan selalu kujaga di sepanjang masa, di sisa umurku
Dan pada sa'atnya nanti kuingin kembali bertemu
Denganmu, ya denganmu
Jakarta, 17 February 2010
Minggu, 14 Februari 2010
SANG WAKTU
Di usia mudamu...
Kamu terlalu angkuh untuk sekedar memperhatikan langkahku
Kamu acuhkan detik demi detik yang aku beri
Sangkamu itu salah, kalau kau anggap aku diam saja
Ketahuilah wahai dikau, aku ini pencemburu
Di usia senjamu...
Kau datangi aku dengan tangisan dan penyesalan
Meminta kepadaku untuk mengulang kembali detik demi detik yang telah terbuang
Pada saat itu aku teringat bagaimana sakitnya hatiku sa'at kau campakan
Ketahuilah wahai dikau, bahwa aku sangat pendendam
Aku ini sang waktu
Langkahku pelan merambat bagi mereka yang terbuai oleh mimpi-mimpi
Gerakku tak terukur bagi mereka yang sadar bahwa aku sang waktu tak pernah memberi ampun
Kamu terlalu angkuh untuk sekedar memperhatikan langkahku
Kamu acuhkan detik demi detik yang aku beri
Sangkamu itu salah, kalau kau anggap aku diam saja
Ketahuilah wahai dikau, aku ini pencemburu
Di usia senjamu...
Kau datangi aku dengan tangisan dan penyesalan
Meminta kepadaku untuk mengulang kembali detik demi detik yang telah terbuang
Pada saat itu aku teringat bagaimana sakitnya hatiku sa'at kau campakan
Ketahuilah wahai dikau, bahwa aku sangat pendendam
Aku ini sang waktu
Langkahku pelan merambat bagi mereka yang terbuai oleh mimpi-mimpi
Gerakku tak terukur bagi mereka yang sadar bahwa aku sang waktu tak pernah memberi ampun
DUH (Celoteh)
Duh kamu kok ya cuek bebek
Aku sudah pasang aksi kamu tak bereksi
Kurang apa aku coba?
Kurang ganteng? iya
Tajir? Apa lagi
Kurang segala-galanya? Pasti
Jadi… terimalah aku apa adanya
Bukan maksud untuk bernegosiasi, toh aku bukan diplomat
Kamu jangan terlalu bermimpi mencari yang lebih baik
Boleh saja bermimpi tapi masalahnya jodoh kamu ya aku
Merayu? Tidak. Karena aku bukan pembual
Sumpah aku tidak punya bakat jadi penipu
Tidak percaya? Di keluargaku tidak ada tuh yang jadi koruptor
So pasti karena tidak ada satupun yang jadi pejabat
Kalau ada aku tidak menjamin, soalnya korupsi enak sih
Tidak percaya? Lah itu buktinya banyak pejabat yang takut sama KPK
Jadi apa lagi yang kamu tunggu? Terima saja cintaku
Apa susahnya sih tidak bayar ini
Ya anggap saja tidak ada rotan akarpun jadi
Kok marah? Kamu merasa terhina?
Jangan sensi kayak anggota dewan dong
Eh maaf kayak anak TK
Ya sudah kalau tidak mau ya tidak apa-apa
Aku hanya ngasih saran bok ya jangan keki begitu
Tapi ingat kiamat sudah dekat, aku cuma mengingatkan
Duh kamu ya kayak pejabat mesti harus selalu diingatkan
Iya sih mereka suka lupa diri keenakan
Saat datang waktu suksesi baru ribut-ribut lagi obral janji, habis jadi, lupa lagi begitu seterusnya kayak kemidi putar
Aku gila katamu? Tidak, aku tidak gila
Kalau tergila-gila sama kamu iya
Duh dia malah pergi……
Ya sudah
Tamat
Aku sudah pasang aksi kamu tak bereksi
Kurang apa aku coba?
Kurang ganteng? iya
Tajir? Apa lagi
Kurang segala-galanya? Pasti
Jadi… terimalah aku apa adanya
Bukan maksud untuk bernegosiasi, toh aku bukan diplomat
Kamu jangan terlalu bermimpi mencari yang lebih baik
Boleh saja bermimpi tapi masalahnya jodoh kamu ya aku
Merayu? Tidak. Karena aku bukan pembual
Sumpah aku tidak punya bakat jadi penipu
Tidak percaya? Di keluargaku tidak ada tuh yang jadi koruptor
So pasti karena tidak ada satupun yang jadi pejabat
Kalau ada aku tidak menjamin, soalnya korupsi enak sih
Tidak percaya? Lah itu buktinya banyak pejabat yang takut sama KPK
Jadi apa lagi yang kamu tunggu? Terima saja cintaku
Apa susahnya sih tidak bayar ini
Ya anggap saja tidak ada rotan akarpun jadi
Kok marah? Kamu merasa terhina?
Jangan sensi kayak anggota dewan dong
Eh maaf kayak anak TK
Ya sudah kalau tidak mau ya tidak apa-apa
Aku hanya ngasih saran bok ya jangan keki begitu
Tapi ingat kiamat sudah dekat, aku cuma mengingatkan
Duh kamu ya kayak pejabat mesti harus selalu diingatkan
Iya sih mereka suka lupa diri keenakan
Saat datang waktu suksesi baru ribut-ribut lagi obral janji, habis jadi, lupa lagi begitu seterusnya kayak kemidi putar
Aku gila katamu? Tidak, aku tidak gila
Kalau tergila-gila sama kamu iya
Duh dia malah pergi……
Ya sudah
Tamat
Kamis, 11 Februari 2010
MILIK SIAPA?
Ingin kubelai hitam rambutmu
Kutelusuri dengan jemariku
Dan nanti padamu aku akan bertanya
Rambut ini milik siapa?
Ingin kutatap bening matamu
Kan kuresapi pancaran cahayanya
Kuhayati segala harapan dan pesonanya
Dan nanti padamu aku akan bertanya
Mata ini milik siapa?
Kalau boleh aku meminta
Izinkan aku mencium keningmu, kedua pipimu dan mengecup lembut bibirmu
Dan nanti padamu aku akan bertanya
Semua itu milik siapa?
Sekali lagi aku meminta
Izinkan aku memeluk dirimu
Agar aku bisa merasakan hangatnya cintamu
Biarkan aku terpaku oleh segalamu, larut dalam eksistensi pesonamu
Dan nanti padamu aku akan bertanya
dirimu milik siapa?
Kutelusuri dengan jemariku
Dan nanti padamu aku akan bertanya
Rambut ini milik siapa?
Ingin kutatap bening matamu
Kan kuresapi pancaran cahayanya
Kuhayati segala harapan dan pesonanya
Dan nanti padamu aku akan bertanya
Mata ini milik siapa?
Kalau boleh aku meminta
Izinkan aku mencium keningmu, kedua pipimu dan mengecup lembut bibirmu
Dan nanti padamu aku akan bertanya
Semua itu milik siapa?
Sekali lagi aku meminta
Izinkan aku memeluk dirimu
Agar aku bisa merasakan hangatnya cintamu
Biarkan aku terpaku oleh segalamu, larut dalam eksistensi pesonamu
Dan nanti padamu aku akan bertanya
dirimu milik siapa?
Rabu, 10 Februari 2010
DASAR MALING
Kamu yang mengendap-endap di tengah malam buta
Menyelinap di ketenangan hatiku
Berkeliaran di dalam benakku
Mengobrak-abrik pikiranku
Merampok waktu istirahatku
Pada saat mentari pagi tiba
Pada saat itu aku sadari
Hatiku telah kamu curi
Malam ini aku sudah siap berjaga-jaga
Tak mau aku kecolongan untuk yang kedua kalinya
Kututup rapat semua pintu dan jendela ruang hatiku
Tapi entah bagaimana caranya
Di pagi hari berikutnya kembali aku sadari
Kini jiwaku yang kamu curi
Malam ketiga, aku lebih waspada dari sebelumnya
Kubacakan do’a dan mantra-mantra
Kutaburkan kembang tujuh rupa
Tak lupa dupa dan kemenyan aku bakar
Belajar dari pengalaman dua malam sebelumnya
Aku hampir yakin kamu sejenis jin atau siluman
Tapi apa yang terjadi....
Mungkin ini sudah suratan nasibku
Atau barangkali karena do’a dan mantra yang aku baca tadi malam salah
Boleh jadi kamu lebih sakti dari yang aku kira
Nyatanya pagi ini kembali aku sadari
Sekarang cintaku yang kamu curi
Dasar maling!!!!
Menyelinap di ketenangan hatiku
Berkeliaran di dalam benakku
Mengobrak-abrik pikiranku
Merampok waktu istirahatku
Pada saat mentari pagi tiba
Pada saat itu aku sadari
Hatiku telah kamu curi
Malam ini aku sudah siap berjaga-jaga
Tak mau aku kecolongan untuk yang kedua kalinya
Kututup rapat semua pintu dan jendela ruang hatiku
Tapi entah bagaimana caranya
Di pagi hari berikutnya kembali aku sadari
Kini jiwaku yang kamu curi
Malam ketiga, aku lebih waspada dari sebelumnya
Kubacakan do’a dan mantra-mantra
Kutaburkan kembang tujuh rupa
Tak lupa dupa dan kemenyan aku bakar
Belajar dari pengalaman dua malam sebelumnya
Aku hampir yakin kamu sejenis jin atau siluman
Tapi apa yang terjadi....
Mungkin ini sudah suratan nasibku
Atau barangkali karena do’a dan mantra yang aku baca tadi malam salah
Boleh jadi kamu lebih sakti dari yang aku kira
Nyatanya pagi ini kembali aku sadari
Sekarang cintaku yang kamu curi
Dasar maling!!!!
15 JUNI 2009
Siang di teriknya matahari
Hari itu 15 juni di bunderan HI
Kulihat seorang aktifis, sahabat lamaku
Kusapa ia, kujabat tangannya
Basa-basi sejenak terus berlalu
Karena kami sama-sama dikejar waktu
Hari itu 15 juni
Kulihat seorang aktifis, sahabat lamaku
Ia masih bergelut dengan idealisme dan demonstrasi
Sedang aku sedang bergelut mempertahankan sisa-sisa jatidiriku
Tengah malam ketika kuingat lagi ia, sahabat lamaku
Kusadari betapa cepat manusia berubah
Aku bercermin, ah aku tak lagi muda
Idealisme terkoyak
Jatidiri terjual
Pada saat itu aku bertanya, siapa aku?
(to slim)
Hari itu 15 juni di bunderan HI
Kulihat seorang aktifis, sahabat lamaku
Kusapa ia, kujabat tangannya
Basa-basi sejenak terus berlalu
Karena kami sama-sama dikejar waktu
Hari itu 15 juni
Kulihat seorang aktifis, sahabat lamaku
Ia masih bergelut dengan idealisme dan demonstrasi
Sedang aku sedang bergelut mempertahankan sisa-sisa jatidiriku
Tengah malam ketika kuingat lagi ia, sahabat lamaku
Kusadari betapa cepat manusia berubah
Aku bercermin, ah aku tak lagi muda
Idealisme terkoyak
Jatidiri terjual
Pada saat itu aku bertanya, siapa aku?
(to slim)
AYAT-AYAT CINTA
Di tengah kesunyian malam
Di saat aku merasa lelah mencari cinta dan kasih sayang
Di saat itu aku berpaling pada-Mu
“Wahai Dikau. Di antara bintang-gemintang, cahaya rembulan, di luasnya jagat raya, dimanakah cinta-Mu Engkau simpan?”
Di sorat tatap pandang-Mu, aku lihat kekecewaan yang begitu dalam
Di saat itu Engkau bertanya padaku
“Di setiap tarikan nafasmu, detak jantungmu, denyut nadimu, di setiap gerak langkah hidupmu, di bagian manakah yang tidak kamu temui? Belum cukupkah ayat-ayat cinta yang Aku beri?”
“Di pagi hari yang cerah,
Di siang hari yang membawa kehidupan,
Di tenangnya malam yang membawa kedamaian,
Di setiap peristiwa dalam kehidupan
Di bagian manakah yang tidak kamu temui? Belum cukupkah ayat-ayat cinta yang Aku beri?”
Oh Tuhan maafkan aku
Di saat aku merasa lelah mencari cinta dan kasih sayang
Di saat itu aku berpaling pada-Mu
“Wahai Dikau. Di antara bintang-gemintang, cahaya rembulan, di luasnya jagat raya, dimanakah cinta-Mu Engkau simpan?”
Di sorat tatap pandang-Mu, aku lihat kekecewaan yang begitu dalam
Di saat itu Engkau bertanya padaku
“Di setiap tarikan nafasmu, detak jantungmu, denyut nadimu, di setiap gerak langkah hidupmu, di bagian manakah yang tidak kamu temui? Belum cukupkah ayat-ayat cinta yang Aku beri?”
“Di pagi hari yang cerah,
Di siang hari yang membawa kehidupan,
Di tenangnya malam yang membawa kedamaian,
Di setiap peristiwa dalam kehidupan
Di bagian manakah yang tidak kamu temui? Belum cukupkah ayat-ayat cinta yang Aku beri?”
Oh Tuhan maafkan aku
Kamis, 07 Januari 2010
REDUP
Redup cahaya di hati
Terkulai jiwa, remuk dan mati rasa
Bahkan setetes cinta tak mampu usap luka
Luka ini lukamu
Luka ini lukaku
Mencoba bertahan di simpang jalan
Saat engkau menyeka air mata “Selamat berpisah”
“Beri sedikit waktu” Kataku
Tapi kau tetap berlalu
Satu pentas ditutup setelah redup
Sisakan derita-derita bagi pemujanya
Sisakan luka-luka bagi hambanya
Apa ini?
Mengapa kini?
Cinta? Kita sama tak mengerti
Satu pentas ditutup setelah redup
Terkulai jiwa, remuk dan mati rasa
Bahkan setetes cinta tak mampu usap luka
Luka ini lukamu
Luka ini lukaku
Mencoba bertahan di simpang jalan
Saat engkau menyeka air mata “Selamat berpisah”
“Beri sedikit waktu” Kataku
Tapi kau tetap berlalu
Satu pentas ditutup setelah redup
Sisakan derita-derita bagi pemujanya
Sisakan luka-luka bagi hambanya
Apa ini?
Mengapa kini?
Cinta? Kita sama tak mengerti
Satu pentas ditutup setelah redup
Jumat, 04 Desember 2009
PRASASTI
Menjadi laki-laki harus kuat
Jangan menyerah kalah
Jangan gentar gemetar
songsong ganasnya gelombang cobaan
Hadapi deru badai kehidupan
Tiada tempat untuk berkelu-kesah
Tiada waktu untuk rasa takut
Terjang! Serang! Menang!
Engkau yang memimpin hidup
Engkau adalah raja
Taklukan dunia taklukan
Karena hidup adalah peperangan
Lagi, lagi dan lagi
Tak ada waktu untuk berdamai
Karena ketenangan dan kedamaian hanya diperuntukan bagi mereka yang telah mati
(Dan bagi jiwa-jiwa yang telah mati, mereka yang telah kehilangan semangat hidup. Elan Vital!)
Jangan menyerah kalah
Jangan gentar gemetar
songsong ganasnya gelombang cobaan
Hadapi deru badai kehidupan
Tiada tempat untuk berkelu-kesah
Tiada waktu untuk rasa takut
Terjang! Serang! Menang!
Engkau yang memimpin hidup
Engkau adalah raja
Taklukan dunia taklukan
Karena hidup adalah peperangan
Lagi, lagi dan lagi
Tak ada waktu untuk berdamai
Karena ketenangan dan kedamaian hanya diperuntukan bagi mereka yang telah mati
(Dan bagi jiwa-jiwa yang telah mati, mereka yang telah kehilangan semangat hidup. Elan Vital!)
Sabtu, 21 November 2009
Romantika diantara derai hujan
Romantika diantara derai hujan
Sa'at hujan basahi bumi
Lelah aku menunggu,menunggu kamu, hanya kamu
detik demi detik terus berlalu belum juga
ada kepastian kapan kau datang
Aku bersabar dalam penantian yang panjang
saat hujan semakin deras, aku resah
harus berapa lama aku menanti?
dan pada saat aku berada di tepi batas kesabaranku
kaupun akhirnya datang
dengan senyum khas genit menggoda engkau berkata
"mas ojek payung?"
Sa'at hujan basahi bumi
Lelah aku menunggu,menunggu kamu, hanya kamu
detik demi detik terus berlalu belum juga
ada kepastian kapan kau datang
Aku bersabar dalam penantian yang panjang
saat hujan semakin deras, aku resah
harus berapa lama aku menanti?
dan pada saat aku berada di tepi batas kesabaranku
kaupun akhirnya datang
dengan senyum khas genit menggoda engkau berkata
"mas ojek payung?"
Minggu, 15 November 2009
HASRAT
HASRAT
Ada hasrat yang diam membeku di sudut hatiku
Mencoba aku menepis “Ini hanya ilusi”
Tapi hasrat itu tetap setia menggoda
Walau keraguan membayangi setiap langkahnya
Dan saat aku mulai yakin akan rasa yang aku miliki
Sisi hati yang lain berkhotbah
“Jangan kau kobarkan lagi api yang telah padam”
“Cinta itu”katanya “Mampu membunuhmu hingga mati rasa”
kemudian saat aku berdiri disini
menatapmu serta merayu
“Tumbuhkan keyakinan akan cinta itu”
dan bila hasratku, hasratmu tak sama
beri sedikit waktu padaku untuk mencoba
mewarnai hidupmu, menjerat seluruh aku
Ada hasrat yang diam membeku di sudut hatiku
Mencoba aku menepis “Ini hanya ilusi”
Tapi hasrat itu tetap setia menggoda
Walau keraguan membayangi setiap langkahnya
Dan saat aku mulai yakin akan rasa yang aku miliki
Sisi hati yang lain berkhotbah
“Jangan kau kobarkan lagi api yang telah padam”
“Cinta itu”katanya “Mampu membunuhmu hingga mati rasa”
kemudian saat aku berdiri disini
menatapmu serta merayu
“Tumbuhkan keyakinan akan cinta itu”
dan bila hasratku, hasratmu tak sama
beri sedikit waktu padaku untuk mencoba
mewarnai hidupmu, menjerat seluruh aku
Selasa, 10 November 2009
ADAM DAN EVA
ADAM DAN EVA
Ingatlah do’a Adam pada Tuhan
Aku lemah dalam kesendirian
Ciptakan bagiku teman dalam kehidupan
Tuhanpun bersabda;
“Ini Kuambil satu, Kuciptakan satu dari tulang rusukmu”
Dengan sabda Tuhan Adam tercipta
Dengan sabda Tuhan Eva-pun ada
Andai kata bisa mewakili isi hati dan perasaan
Ketahuilah cintaku lebih dalam dari puisi dan sya’ir lagu
Kalau memang kau tercipta dari tulang rusukku
Salahkah aku mencintai bagian dari milikku?
Langganan:
Postingan (Atom)