Laman

Kamis, 19 Juli 2012

DINA ELIANA MENCARI CINTA


Berjejer buku di meja belajar, seumpama seorang gadis mereka tersenyum manis menggodaku “Mari” katanya. “Jamalah kami”. Tapi sayang aku tidak sedang berhasrat, jadi kuabaikan mereka.
“Kenapa kamu begitu dingin Jon?” Tanya Romeo end Julietnya Willam Shakespeare. “Tidakkah kamu ingin tau, dimana pada akhirnya Romeo dan Juliet berpelukan, dikubur atau di ranjang?”.
“Jangan hiraukan dia Jon ”Sela Apollogia-nya Plato. “Mari ada Tragedi disini”.
Suara-suara itu terus saja memanggil-manggil, merayu, mengiba layaknya seorang gadis yang sedang dimabuk cinta. Sedang aku masih seperti tadi mengacuhkan saja.
“Malam ini” kataku dalam hati. “aku sedang tidak ingin membaca, aku ingin menulis” Kunyalahkan perangkat komputerku, kubuka program word, setelah jendela program itu terbuka dan kedip-kedip kursor nampak dilayarnya kuletakan jari-jemariku diatas keybord, siap membuat kata pembuka.
“Tapi apa yang ingin aku tulis?” Tanyaku kepada diriku sendiri “Cerita Cinta”. Gumamku pelan. Mendengar itu Romeo end Juliet tersenyum manis padaku “Ayo Jon, jangan ragu, nikmatilah kisahku”.
‘Tidak kamu salah paham. Malam ini aku sedang tidak ingin membaca” Mendengar kata-kata terakhirku Romeo end Juliet tampak murung, tidak kutemukan lagi senyum manisnya.
“Kamu jahat Jon” Erangya penuh kesedihan, andai ia seorang gadis tentu ia akan menangis. Tapi tidak, dia hanya sebuah buku.
Teng! Suara jam dinding memanggil, jarum pendeknya menunjuk angka satu. “Apa yang sedang kamu tunggu Jon? Tidaklah kamu merasa kasihan kepada monitor yang menantimu? Bahkan satu huruf pun belum kamu tulis.”
“Diam kalian!” Bentakku. Tiba-tiba aku tersentak, tersadar akan apa yang aku lakukan. Apa aku sudah gila? Kenapa aku bicara pada mereka?
Kedip-kedip kursor masih setia menanti, kukumpulkan semua ide di kepala, mencoba konsentrasi, tapi lagi-lagi, aku belum membuat kata pembuka, bahkan, seperti kata jam dingding tadi, satu huruf pun belum aku tulis disana.
Sudah dua hari ini aku susah tidur, selalu saja masih terjaga hingga tengah malam buta. Di kelaspun aku tidak bisa konsentrasi pada mata kuliah yang aku ikuti. Semua itu gara-gara perempuan bermata biru. Terbayang-bayang olehku kali pertama aku brtemu dengannya. Waktu itu aku diperpustakaan kampus, sedang terbenam dalam alur cerita novel Ayat-Ayat Cinta-nya Habiburrahman.
”Aku Dina Eliana” katanya sambil mengulurkan tangan memperkenalkan diri “cukup panggil aku Dina atau Ana saja”
Aku sambut tangannya “Joni” balasku.
“Boleh aku duduk disini Jon?” Tanya Dina sambil mengambil duduk di depanku, senyum manisnya tersungging, merekah.
“Boleh, silahkan, tapi maaf ya, kalau kamu aku cuekin, aku sedang membaca”. “Tak apa Jon, itu bagiku sudah lebih dari cukup”
Kembali kubenamkan kepalaku, konsentrasi pada kisah Fahri yang menjadi tokoh utama dalam Novel yang ada di tanganku.
“Kalau sedang serius kamu tampan juga Jon” Deg! Aku tersentak, seakan ada palu besar yang menghantam jantungku. Sungguh aku tidak menyangkah Dina akan memujiku dengan terus terang. Terbuka sekali dia, bahkan terkesan provokatif, terlalu berani untuk ukuran orang-orang Indonesia yang suka basa-basi. Kudongkakkan kepalaku.
            “Kamu bilang apa tadi?” aku takut aku salah dengar.
“Kamu tampan,  Jon”.
“Ha…ha…ha….” Kupaksakan untuk tertawa. Jujur saja aku grogi di buatnya. “Rupanya kamu suka bercanda ya?”
“Tidak, aku serius Jon, aku benar-benar serius menggodamu”.
Jeder! Kini giliran halilintar yang menyambar jantungku. Mataku melotot, tidak percaya dengan apa yang aku dengar barusan. Seumur hidupku baru kali ini aku alami. Ada perempuan yang begitu berani mengungkapkan perasaan sukanya kepadaku, lebih-lebih yang mengungkapkan itu Dina, gadis cantik nan menawan, orang yang baru saja aku kenal.
“Kamu orangnya benar-benar terbuka ya ?” Kupaksakan untuk tersenyum “Bahkan kepada orang yang baru kamu kenal” Imbuhku.
“Tidak Jon, hanya kepadamu saja aku begitu”.
“Hanya kepadamu saja aku begini” Aku mengulang kata-katanya di dalam hati. Dia bicara begitu seolah-olah telah lama mengenalku.
“Aku takut ada orang lain yang mendahuluiku” Sejurus matanya menatapku ada pancaran aneh di bola matanya, pancaran yang aku tak tau apa artinya. “Atau aku memang sudah terlambat Jon?”
Dahiku berkerut tak mengerti arti perkataannya
“Ah tentu saja aku sudah terlambat, maafkan aku ya, sampaikan juga kata maafku kepada kekasihmu. Aku begini karena aku sangat mencintaimu. oh tidak, tidak seharusnya itu aku katakan, sekali lagi maafkan aku Jon”.
“Cukup !” Benakku tak sadar, hingga menarik perhatian seisi ruangan. Terlebih Ibu Cocok si penjaga perpustakaan, dengan masam dia menunjuk peringatan yang di tempel di dinding “Jangan berisik!”.
“Mungkin ada yang salah di antara kita” kuturunkan nada suaraku.
“Tidak Jon”.
“Diam, biar aku lanjutkan, mungkin sekarang aku sedang bermimpi. Dan ini salah satu mimpi burukku, aku berharap aku cepat-cepat terbangun dari tidurku ini”.
“Tidak Jon, kita tidak sedang bermimpi”.
“Oke, aku tidak sedang bermimpi, mungkin aku sekarang sedang berhalusinasi, berkhayal atau mungkin aku salah minum obat tadi malam. Tapi yang pasti, tidak seharusnya aku bertemu denganmu hari ini. Jadi cukup kita sampai disini saja” Aku bangkit dari dudukku bergegas meninggalkan Dina. “Wanita Aneh” gumanku .
ups! Aku tersadar dari lamunanku. Lagi-lagi perkenalanku dengan Dina terbayang dibenakku. Sampai sekarang aku tak tahu kenapa aku jadi sering memikirkan Dina. Apa itu karena aku terpesona akan kecantikannya? Atau itu karena keberaniannya mengungkapkan perasaannya kepadaku? Atau mungkin Karena kedua-duanya.
Kalau  hanya melihat kesempurnaan fisik, aku bisa saja membuat seribu satu macam alasan untuk mencintai Dina. Wajar saja aku bilang begitu, karena aku yakin lelaki manapun yang ada di dunia ini yang waras akal pikiranya atau tidak ada kerusakan di alat penglihatannya, aku jamin akan tertarik dengan Dina, bisa jadi langsung jatuh cinta. Rambutnya hitam lurus sebahu, hidungnya mancung, bibirnya yang seksi, wajahnya ayu, kulitnya yang putih, dan mata birunya itu, sungguh sangat-sangat menawanku.
Akan tetapi keberanian Dina dalam mengungkapkan perasaannya justeru membuat aku curiga, bisa jadi aku merasa takut, karena sangat jarang orang seperti dia sangat mudah didapatkan, apalagi terkesan murahan seperti Dina, ah, kenapa aku jadi berpikiran macam-macam. D-I-N-A-E-L-I-A-N-A. Tanpa sadar kuketik namanya dilayar komputer.
“Jon, lagi ngapain sih?” Tahu-tahu Ucok sudah berdiri di belakangku, membuyarkan lamunanku. “Itu siapa Jon?”
“Apa?”
“Itu” Tangan Ucok menunjuk ke arah monitor.
“Bukan siapa-siapa. Tadi aku sedang menulis cerpen tapi sayang baru nama tokohnya saja yang aku tulis”.
“Jangan bohong kau”. Pasti kamu tadi sedang memikirkan perempuan yang bernama Dina, iya kan? ngaku sajalah kau”
“Tidak, buat apa aku berbohong”
“Itu buktinya” sekali lagi Ucok menunjuk kearah monitor
“Apa artinya sebuah nama”  kukutip kata-kata bijak William Shakespeare.
“Apa kalau yang aku ketik itu Joko terus kamu anggap aku ini Homo, begitu?”
“Itu lain soal Jon”
“lain bagaimana?”
“Kalau kamu benar-benar tidak sedang memikirkan Dina, kenapa kamu sampai tidak sadar kalau aku sudah berdiri di belakangmu dari tadi”
“Itu karena aku sedang konsentrasi pada cerpen yang akan aku tulis”.
“Oya, konsentrasi ya, pintar kali kau mengelak”
“Oya  pintar kali kau menuduh ya” ledekku memakai logat Medannya.
“Masih juga kau mengelak, biar nanti ku adukan kau sama Nafsah, tau rasa kau nanti”
“Hai Ucok, suka kali kau buat isu. Apa kata dunia nanti kalau Naga Bonarnya sekarang jadi penggosip, ha!”.
Tidak ada balasan, hanya senyum Ucok menyeringai penuh arti
****
“Ini Jon, ada titipan buatmu” Anton menyerahkan sepucuk surat kepadaku, surat bersampul biru.
“ Dari siapa Ton?”
“Dari Dina katanya, tadi aku bertemu di gedung serba guna”. Lagi-lagi Dina benar-benar nekad perempuan yang satu ini. Apasih yang dia inginkan dariku? Dia sendiri sebenarnya siapa? Lama-kelamaan bikin keki juga nih anak, baru kenalan tapi kelakuannya sudah merepotkan, menambah beban pikiranku saja. Gerutuku dalam hati.
“Dari Dina ya Ton?” Tanya Ucok, dijawab Anton dengan anggukan kepala. “Berarti hebat juga kawan kita ini Ton”
“Hebat apanya, kalau sekedar dapat surat dari perempuan apa hebatnya. Kalau boleh aku sombong sudah berapa kali aku dikirimi surat, apalagi yang namanya ditembak perempuan duluan, tidak terhitung Cok,”.
“Bukan begitu maksudku. Maksudku kawan kita ini, si Joni, dia bukan hanya pintar bikin cerpen, tapi dia juga bisa menghidupkan tokoh dalam cerpennya di kehidupan nyata”
“Yang benar Cok?”
“Makanya kalau kau tidur jangan mirip kerbaulah. Asal kau tau, kamaren malam dia ngomong sedang bikin cerpen tentang seorang yang bernama Dina. E, hari ini , si Dina kirim surat sama Joni, apa tidak hebat namanya”.
“Benar Jon?”
“Jangan dengarkan bualan si Naga Bonar Penggosip itu”
“Sudah kau bacalah dulu Jon, barang kali si Dina mau pasangan dalam cerpen itu kau Jon” Ledek Ucok.
Kubuka sampul surat dari Dina, kubaca barisan kalimat yang tertulis didalamnya.

“Diakah orang yang telah mendahuluiku, diakah yang telah mencuri hatimu Jon? Iya tentu saja Nafsah. Tadi di kantin tidak sengaja aku dengar obrolan Nafsah dengan kawan-kawannya. Dari situ aku tau kalau Nafsah itu kekasihmu. Kalian memang pasangan yang serasih. Aku tidak keberatan kok bersaing dengan Nafsah. Nafsah memang pantas menjadi sainganku”
      Ttd
Dina Eliana

Hanya itu yang Dina tulis. Entah apa yang harus aku lakukan, haruskah aku berterima kasih kepada Dina, karena ia mencintaiku, ataukah aku harus membencinya, karena ia sama sekali tidak peduli akan hubungan yang telah aku jalin dengan Nafsah. Mungkin akan lain ceritanya kalau aku masih sendiri ketika Dina mengungkapkan rasa cintanya kepadaku. Tapi sekarang sudah ada Nafsah disisiku. Apa dia pikir aku harus menyingkirkan Nafsah dari hatiku, enak saja, tidak semudah itu.
“O..o.., kamu ketahuan pacaran lagi dengan dirinya “Terdengar suara Anton mendendangkan lagu milik group band Mata.
“Tutup mulutmu Ton. Jangan biarkan si Bau Naga penggosip itu merusak otakmu”.
“Lagi-lagi Ton, kau nyanyikan lagi lagu itu” si Ucok menyemangati Anton.
“O…o… Joni ketahuan pacaran lagi dengan dirinya namanya Dina” kembali Anton berdendang, sekarang dengan Ucok yang menjadi beking vokal.
“Sial ”Aku memaki dalam hati “Dasar bajingan kalian”
****
            Jarum jam ditanganku menunjukan angka 7: 25 menit masih ada 5 menit lagi sebelum mata kuliah dimulai. Kupercepat langkahku menuju kelas. Kelasku berada di Lantai 2 Gedung Fakultas Hukum, letaknya tidak jauh dari gerbang utama pintu masuk kampus. Dari depan gedung itu aku cukup naik tangga sekali, belok kiri, setelah melewati kelas AI sebelum kelas AIII disitulah kelasku, kelas AII Fakultas Hukum.
            Baru saja aku menginjakkan kaki di lantai 2, ketika aku lihat dari depan kelas Anwar menunjuk kearahku “Itu dia datang” katanya kepada lelaki setengah baya disampingnya. Aku dekati mereka.
            ‘Om  ini tadi mencarimu Jon” Anwar memberi tahu.
            “Pagi  Om” Sapa ku kepada lelaki yang dimaksud.
            “Pagi”. Balas lelaki itu “perkenankan nama saya Sanusi” diulurkan tangan kanannya kepadaku.
            “Saya Joni, Om”. Kusambut tangannya, juga mengenalkan diri. Aku amati  Om Sanusi. Aku taksir umurnya kira-kira 45 tahunan, penampilannya rapi dengan kemeja coklat muda yang dibalut dengan jas berwarna sama, serta sebuah dasi bergelantung dilehernya. Tapi sayang penampilan fisiknya tidak sesuai dengan keadaaan yang tampak tidak bahagia. Ada kecemasan di raut wajahnya, ada kesedihan yang terpancar dari matanya
            “ Karena sudah ketemu, saya tinggal ya Om” kata Anwar mohon diri kepada Om Sanusi.
            “ Terima kasih ya Dik”
            “ Sama-sama Om” balas Anwar, lalu ia pun  masuk kelas
            “Apa sekarang kamu ada waktu luang Jon?
            “Sebenarnya aku ada kuliah Om, kalau boleh tau kira-kira ada keperluan apa ya, sampai-sampai Om mencariku?”
            “Ini tentang Dina, kamu kenal Dina kan?”
            “Iya saya kenal” Tentu saja saya kenal, dengan orang yang telah mengganggu konsentrasiku akhir-akhir ini. Ada hubungan apa Om Sanusi dengan Dina ? Tanyaku dalam hati
            “Saya ayahnya Dina, Jon” Aku Om Sanusi seakan mendengar isi hatiku. Pengakuan itu sudah cukup membuat aku jadi tegang. Apa yang telah dikatakan Dina kepada orang tuanya? Jangan-jangan sekarang aku akan dimintai pertanggung jawaban karena disangka telah menghamili Dina. Wajar saja aku sampai berpikiran begitu mengingat begitu ngototnya Dina mengejarku. Rupanya aku telah dijebak, kalau saja aku tahu akan seperti ini jadinya tak sudi aku kenalan sama Dina, Sial ! Aku benar-benar sial.
            “Emh…. Aku tarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan diri aku pun berusaha setenang mungkin saat bertanya kepada Om Sanusi.
            “Ada kabar apa dari Dina, Om?’
            “Sekarang Dina sedang dirawat di Rumah Sakit”
            Benar dugaanku, aku nembatin rupanya Dina akan melahirkan, tapi tidak, tidak secepat itu. Terakhir kali aku lihat perut Dina belum membesar atau jangan-jangan Dina keguguran? Ya pasti, pasti Dina keguguran. Terkutuklah Dina kalau sampai itu karena perbuatanku
            “Sekarang Dina koma, Jon” Imbuh  Om Sanusi. Jelas saja aku makin panik. Jadi sekarang Dina sedang koma setelah mengalami pendarahan akibat keguguran. Akhirnya dengan tidak sabar aku ungkapkan kegelisahan yang berkecamuk dalam hati.
            “Jadi sekarang Dina sedang koma akibat mengalami pendarahan karena keguguran. Dan om Sanusi mencariku untuk meminta pertanggung jawabanku, bila Om pikir akulah yang telah menghamili Dina, aku tegaskan Om salah alamat.
            “Kamu salah sangka Jon, Dina koma bukan karena itu tapi karena penyakit yang di deritanya”
            “Penyakit? Dina sakit apa Om?”
            “Kangker otak”
            “ Ya Tuhan…….”
            Om Sanusi menatapku penuh harap dan dengan iba memohon kepadaku “Tolong Jon, temui Dina, buat ia bahagia untuk yang terakhir kalinya” aku lihat matanya basah.
*****

            Setelah memarkirkan mobil aku dan Om Sanusi bergegas menelusuri koridor rumah sakit Cipto Mangunkusumo, di depan ruang VIP kedatangan kami disambut isak tangis seorang perempuan yang tidak lain Ibu Dina.
            “Dina, pa ” ratap ibu dina pada suaminya.
            “Ada apa dengan Dina, bu?”
            “Dina…” perempuan itu tidak kuasa meneruskan kalimatnya. Dipeluknya sang suami dan tumpahlah air mata itu di dada suaminya. Pada saat Om Sanusi mencoba menenangkan istrinya pintu kamar dimana kami berdiri terbuka dan seorang Dokter ditemani perawat keluar dari kamar itu.
            “ Relakan kepergiannya pak, bu. Kami sebagai dokter hanya bisa berusaha tapi rupanya Tuhan berkehendak lain” Hibur sang Dokter yang memakai seragam putih sedang di dadanya tersemat pin yang bertuliskan Dokter Adi.
            Aku mengerti apa arti dari kata-kata itu. Sungguh aku tidak menyangka begitu cepat Dina singgah di dalam kehidupanku, kemudian ada penyesalan yang menghinggapi kalbuku. Rasa berdosa, juga rasa bersalah kenapa aku terlalu mengacuhkan Dina padahal Dina begitu mencintaiku.
            “Silakan”. Dokter Adi mempersilahkan kami masuk ke kamar. Di dalam kamar aku melihat Dina terbaring tenang, ada senyum manis kegambar dibibirnya, senyum termanis yang belum aku temui sebelumnya. Senyum seseorang yang begitu bahagia.
            Sebuah sentuhan aku rasakan di pundakku “ kamukah yang bernama Joni?’. Tanya ibu Dina masih dalam isak tangisnya.
            “Iya Tante, maafkan saya tan, saya……” tak sanggup lagi aku teruskan kalimat ku, ada rasa bersalah dihatiku, andai saja aku tau lebih awal. Tak sanggup begitu saja aku mengabaikan Dina.
            “Dina sering memanggilmu Jon, dia terus saja menyebut-nyebut namamu”
            kutelan ludahku, kerongkonganku terasa kering
            “Ini, ada surat untukmu, Jon. Ia sempat menulisnya sebelum ia jatuh koma”. Ibu Dina memberikan surat bersampul jingga kepadaku, dengan tangan bergetar kuterima surat itu dan akupun membaca.

            Ku tulis surat ini untuk mu, Jon. Engkau yang aku puja saat mentari terbit, saat tenggelam, bahkan saat malam datang.tahukah kamu jon, aku langsung jatuh cinta padamu pada pandangan pertama Waktu itu kamu sedang berorasi di depan gedung MPR. Saat kita demonstrasi menentang kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM ku dengar katamu  begitu bersemangat, tegas dan berani. Kata-katamu bagaikan mantra yang sanggup menggetarkan hatiku. Mungkin kamu tidak tau diantara sekian banyak mahasiswa, ada seorang gadis yang begitu terpesona oleh uraian yang kamu berikan, gadis itu adalah aku.
            Detik demi detik, detik berganti jam, jam berganti hari, haripun silih berganti, datang dan pergi. Dan perasaan cintaku padamu semakin bertambah. Tapi Jon, apa yang bisa aku lakukan, sebagai perempuan tak mungkin aku mengungkapkan perasaanku. Akupun di paksa untuk puas hanya sebatas mengagum mu saja, melihat dari kejauhan, memujamu diam-diam, padahal kita satu kampus Jon, padahal jarak kita teramat dekat, tapi bagiku kamu terasa begitu jauh.
            Aku masih terus menikmati kebahagiaan dalam hidupku, sampai pada akhirnya aku ditikan perasaan takut yang amat sangat ketika tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan kedua orangtuaku tentang penyakit yang aku derita, baru aku ketahui bahwa dokter telah memvonis umurku tinggal beberapa hari lagi. Pantas saja ibuku begitu ngotot menyuruh aku berhenti kuliah setelah aku sembuh dari sakit. Memang aku pernah di rawat di rumah sakit? Beberapa hari setelah aku pingsan sehabis pulang kuliah. Waktu itu aku tidak menyangka kalau kangker ganas telah menyerang otak di kepalaku
            Semenjak mengetahui kenyataan itu aku bertekad untuk membahagiakan diri di sisa umurku, aku bertekad mencapai cintaku, cintaku padamu, semenjak itu juga aku tidak lagi bersikap pasif menunggu hingga kamu melihatku., mengagumiku, menyatakan cintamu padaku. Maka mulailah aku mendekatimu. Mengajak kamu kenalan dan menggodamu. Sampai mengungkapkan perasaan cintaku padamu.
            Kamu pasti heran melihat aku begitu agresif, mungkin juga kamu membenciku karena mengejar-ngejarmu. Sempat juga terlintas dalam benakku untuk menyampaikan alasanku yang begitu ngotot ingin mendapatkanmu. Tapi niat itu aku urungkan, karena aku tak mau kamu mencintaiku semata-mata karena rasa belas kasihan.
            Aku egois ya Jon? Aku hanya mementingkan kebahagianku sendiri tanpa mau memikirkan kebahagianmu. Tapi Jon, salahkah aku menginginkan kebahagiaan dari orang yang aku cintai? Salahkah aku bila ingin merasakan kebahagiaan disisa hidupku?
Akh, aku benar-benar egois ya Jon? Karena itu maafkan aku Jon. Sekali lagi maafkan aku. Sekarang aku sadar bahwa cinta dan kebahagiaan tidak mungkin lahir dari paksaan. Dan tidak sepatutnya sisa umurku aku gunakan untuk menyakitimu juga merusak hubunganmu dengan Nafsah. Sampaikan juga kata maafku pada Nafsah ya Jon, karena aku telah menggoda kekasihnya, kalian memang pasangan yang serasi, kudo’akan kalian bahagia. Selamat, aku ucapkan untuk kalian”
T T D
Dina Eliana

            Kututup surat dari Dina, dadaku terasa sesak “Salahkah aku bila ingin merasakan kebahagian di sisa hidupku?” Pertanyaan itu bagai sebilah pedang yang menusuk jantungku.

Rabu, 18 Juli 2012

PRASANGKA


Masih terbayang jelas dalam ingatanku. Terpatri di dalam benakku. Bagaimana dulu ayah mengamuk, memecahkan semua yang bisa dipecahkan, melempar semua yang bisa dilempar, semampu yang ia bisa. Ruang tamu tempat kami biasa bercengkerama dengan penuh suka-cita dengan gilang-gemilang diporak – porandakan oleh ayahku. Guci yang dibeli dua hari yang lalu hancur berserakan di lantai. Foto perkawinan kedua orangtuaku terdampar di bawah kolong meja bangkai dan kacanya pecah terbela. Pernak – pernik hadiah ulang tahunku pun tidak luput dari amukan ayahku, berhamburan kesegala arah. Ruang tamu keluarga kami bagai diterjang gelombang Tsunami.
Di hadapan ayah, ibuku hanya diam, ya hanya diam. Tapi kedua bola matanya merah menyala, dadanya turun – naik, nafasnya memburu, tubuhnya gemetar. Dari ekspresi wajahnya aku tahu ibu tidak sedang ketakutan. Sama seperti ayah, ibu sedang dikuasai amarah yang meluap – luap. Entah apa yang membuat ibu bisa bertahan untuk tidak melampiaskan  amarahnya.
Sementara itu aku, anak mereka yang baru berusia 11 tahun hanya bisa menyaksikan dengan ketakutan. Tubuhku gemetar, kedua tanganku memeluk erat pintu kamarku, dadaku sesak dan hatiku remuk. Sungguh aku tidak menangis hanya air mata mengalir deras dari kedua bola mataku.
Sebelum peristiwa itu terjadi, kehidupan kami cukup bahagia. ayah bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta. Sedang ibu, menjadi Ibu rumah tangga mengurus aku, anak satu – satunya. Secara ekonomi, gaji ayahku lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan kami. Walau tidak bisa disebut sebagai orang kaya, tidaknya kami tidak pernah merasa kekurangan. Kadang kala pada hari minggu, terutama saat ayah baru gajian, kami sekeluarga pergi jalan – jalan ke taman hiburan.
Keadaan mulai berubah ketika ayah mendapat promosi kenaikan jabatan. Mulai pada saat itu ayah jadi sering pulang malam. Biasanya pukul 5 sore ayah sudah ada di rumah. Setelah naik jabatan, ayahku baru pulang pukul  8 malam. Bahkan pernah tidak pulang sama sekali. Begitu juga sikapnya kepadaku. Sebelumnya, setelah pulang kerja, ayah menyempatkan diri untuk menanyakan bagaimana sekolahku, teman – temanku, pelajaranku atau menemaniku saat aku mengerjakan PR. Kini setelah pulang dari kantor ayah langsung mandi kemudian pergi tidur. Pendek kata aku merasa kehilangan ayahku sendiri. Ada tapi seakan tak peduli.
Sebatas itulah yang bisa aku ingat. Seingatku, setelah amuk ayah, aku tinggal hanya dengan ibuku seorang. Sampai aku tumbuh menjadi seorang gadis, tumbuh dewasa dan setelah berpacaran selama dua tahun, aku dipinang sebagai istri oleh pacarku. Bukan kebetulan kalau aku teringat pada peristiwa pertengkaran kedua orangtuaku. Karena sekarangpun aku sedang bertengkar dengan suamiku.
***
Istriku oh Istriku
Sudah tiga hari aku bertengkar dengan istriku. Masalahnya sederhana saja, setidaknya pada awalnya. Masalahnya ia terlalu perhatian kepadaku. Saking perhatiannya aku merasa ia terlalu protektif. Kalau tidak mau dibilang posesif. Pada saat aku di kantor, pada jam kerja, ia menelponku. Sesekali menurutku sih sah – sah saja sebagai bentuk perhatian. Tapi kalau terlalu sering aku menjadi merasa diawasi. Belum lagi karena itu atasanku sempat menegurku.
Seorang sahabat menasehatiku, bahwa yang dilakukan istriku adalah sebagai  bentuk cintanya kepadaku. Sebagai bukti bahwa istriku sangat mencintaiku. Seharusnya aku bersyukur. Demikian nasehat sahabatku.
Mungkin sahabatku benar. Tapi … aku jadi teringat bagaimana dulu aku pernah berdo’a kepada Allah SWT supaya aku diberi istri yang mencintaiku melebihi kecintaanya kepada semua yang ada dijagat raya. Kalau memang do’aku dikabulkan oleh Tuhan  melalui istriku. Sekarang aku berharap supaya do’aku yang terlanjur dikabulkan agar dibatalkan saja. Sekarang cinta yang aku harapakan dari istriku cukuplah cinta sebatas yang aku perlukan. Cukup sekedar memenuhi kadarku sebagai manusia biasa. Karena sekarang aku baru tahu dicintai atau mencintai seseorang dengan kadar yang tidak semestinya akan berakibat kesengsaraan. Tidak jauh beda dengan terlalu banyak minum air akan membuat perut menjadi kembung.
Oke, masalah telpon masih bisa aku maklumi. Tapi ketika ia mulai mencurigaiku, saat aku telat pulang atau terpaksa pulang malam karena harus lembur, aku tidak bisa mentolerir sikap istriku lagi. Bayangkan saja, seharian aku membanting tulang, mencari rizki untuk keluarga kami, untuk anak kami bila suatu saat nanti kami dikaruniai anak. Pulang kerja dengan tubuh letih dan urusan – urusan kantor yang berjejalan di otakku, yang aku harapkan istriku menunggu di depan pintu kemudian menyambut kedatanganku dengan senyum manis mengembang. Tapi bukan senyum yang aku dapatkan, kedatanganku disambut oleh istriku dengan muka cemberut ditekuk – tekuk. Kemudian dicecarnya aku dengan pertanyaan yang penuh dengan kecurigaan; kenapa pulang telat? Lembur? Lembur kok hampir setiap hari?
Siapa orangnya yang mau diperlakukan seperti itu? Suami mana sih yang tidak marah diperlakukan seperti itu? Istri yang seharusnya bisa menjadi tempat berbagi keluh – kesah, istri yang seharusnya menjadi tempat mencari  kedamaian. Tapi istriku malah memberi bara api neraka.
Bicara tentang cemburu, seharusnya akulah yang lebih pantas untuk cemburu. Akhir – akhir ini istriku lebih sering bersolek. Coba untuk siapa ia bersolek? Aku sendiri seharian berada di kantor. Sedikit – banyak aku jadi curiga. Jangan – jangan istriku seperti bunyi pepatah: lempar batu sembunyi tangan atau maling teriak maling. Dan ketika tadi pagi sebelum berangkat kerja aku tanyakan, ia sama sekali tidak menjawab. Dari bola matanya bisa aku lihat ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku.
***
Suamiku oh Suamiku
Pernah aku dengar ada yang  bilang wanita adalah makhluk yang paling susah untuk dimengerti. Menurutku, laki – lakilah yang paling susah untuk dipahami. Bagaimana tidak, perhatian yang selama ini aku berikan dengan sepenuh hati sebagai tanda cintaku, oleh suamiku diartikan lain. Saat aku menelpon ke kantor untuk menanyakan keadaannya dan untuk mengingatkan jangan sampai telat makan siang. Aku dituduhnya protektif. Saat aku bertanya kenapa terlambat pulang, dituduhnya aku cemburu buta, berprasangka yang tidak-tidak.
Cemburu? Cemburu itu manusiawi. Siapapun yang memiliki cinta pasti punya rasa cemburu. Bukankah cemburu bukti adanya cinta. Dan istri mana sih yang tidak merasa cemburu bila suaminya sering pulang malam.
Dia sendiri cemburu padaku. Katanya, sekarang aku lebih sering bersolek. Dia pikir untuk siapa aku bersolek? Tentu saja aku bersolek untuk suamiku sendiri. Ah, bukan maksudku untuk menyalahkan ibuku atas kepergian ayahku. Boleh jadi sedikit banyak ibu berperan atas kepergian ayah. Boleh jadi ayah pergi karena ibu kurang memberi perhatian dan kurang berdandan. Cukup sering terjadi seorang suami berlabuh ke lain hati karena istrinya tidak secantik waktu mereka masih pacaran. Bukan karena sang istri cepat menua. Tapi karena sang istri mengabaikan penampilan dirinya. Dia pikir, setelah menikah tidak perlu lagi berdandan, mempercantik diri. Kalau aku, jangankan bersolek bila perlu untuk mencegah suamiku   kepincut perempuan lain, aku mau melakukan operasi plastic agar lebih menarik.
***
Istriku Oh Istriku
Pukul 9 malam aku baru bisa pulang kerja. Bergegas sepeda motor kupacu, melaju dengan kecepatan 80 km/jam. Entah kenapa hatiku gelisah. Bayangan istriku menari – nari di benakku.
Tiba – tiba dari arah samping kananku melesat sebuah cahaya. Sial!
***
Suamiku oh Suamiku
Jam dinding di ruang tamu menunjukan pukul 10. Malam semakin larut. Aku gelisah menunggu kepulangan suamiku.
Tok! Tok! Tok! Terdengar pintu rumahku diketuk. Itu pasti suamiku.
***
Istriku Oh Istriku
Aku telah sampai di rumah ketika kudapati istriku berdiri dengan tubuh gemetar. Kedua mata dan pipinya basah oleh air mata. Sedang dihadapanya berdiri dua orang polisi.
“Bapak pasti salah” kata isriku dengan suara serak.
“Tidak bu. Kami tahu dari kartu identitasnya. Kami ikut berduka – cita. Sekarang jenazah suami ibu ada di Rumah Sakit”demikian kata salah satu dari kedua polisi itu member keterangan.
Oh, sekarang aku baru ingat. Cahaya yang melesat waktu aku pulang tadi adalah cahaya dari sebuah mobil yang menyambar  tubuhku.
Air mata meleleh dari kedua mataku. Tidak, aku tidak menagisi kematianku. Aku menangis karena terharu. Bagaimana aku tidak terharu, pada saat kami sedang bertengkar, di sana, aku lihat disana, di meja ruang tamu sebuah lilin menyala diatas kue tart bersama sederet kalimat “ Selamat Ulang Tahun Perkawinan Kita  Yang Pertama”.


Jakarta, 7 Desember 2010

Rabu, 11 Juli 2012

Cinta itu Tak Terduga, Kadang Kekanak-kanakan dan Paling Tidak Rasional

Kawan, entah apa yang telah terjadi pada diriku. Yang pasti
semenjak aku melihat seorang gadis, aku dilanda kotradiksi perasaan.
Bahagia sekaligus menderita, senang sekaligus sedih, rindu sekaligus
ragu, takut sekaligus mengharap, malu tapi mau, acuh tapi menunggu.
Perasaan-perasaan itu timbul tenggelam, datang dan pergi sesuka hati,
diam-diam, mengendap-endap dalam kesunyian.
Gadis itu penghuni baru di lingkungan kostsanku. Kau tahu,
semenjak pertama kali aku melihatnya, semenjak itu aku sering terpaku menatap pintu kamarnya.
Aku berharap pintu itu terkuak dan dia muncul dengan seuntai senyum mengembang. Senyum
manis, semanis kembang gula. Aku harap senyum itu untukku. Cukup sekali saja dia tersenyum
kepadaku, cukup sekali sepanjang hidup, cukup sekali setiap hari. Biarlah tak mengapa.
Kawan, kamu boleh percaya boleh tidak sebuah pintu ternyata dapat menyiksa perasaan
seseorang sedemikian rupa. Itu terjadi padaku. Saat pintu kamarnya tidak terbuka untuk beberapa
lama, selama itu juga aku disiksa oleh kegelisahan yang tak jelas ujung-pangkalnya. Kegelisahan
itu baru mau minggat setelah pintu itu terbuka dan dia muncul dari dalam kamar. Aduh..hatiku
senang tak terbilang. Padahal aku tahu, siapapun tahu, bahkan cicak di dinding pun tahu dia
keluar dari dalam kamar dalam rangka mengangkat jemuran karena hari turun hujan. Sama sekali
tidak ada sangkut-pautnya dengan diriku.
Soal pintu tadi, kamu tentu tahu bukan pintu tapi si gadislah yang aku tunggu-tunggu.
Pertanyaannya, buat apa? Kenyataannya pada saat ia lewat di depanku sama sekali tidak ada
yang aku lakukan. Sama sekali tidak ada kecuali acuh tak acuh, pura-pura tidak melihat, purapura
tidak perduli padahal ketika aku menunggu tadi aku gelisah setengah mati.
Nama gadis itu? Kemuning. Ah, sebenarnya itu nama gelar saja. Kebetulan waktu aku
melihatnya untuk pertama kali baju yang ia kenakan berwarna kuning. Adapun nama asli gadis
itu sampai sekarang aku belum tahu.
Kamu boleh menertawakan aku, tertawalah sepuasmu. Kenyataan siang malam aku
memikirkan seorang gadis yang belum aku kenal bahkan sekedar namanya. Padahal orang itu,
gadis itu belum tentu sekalipun pernah memikirkan aku. Kenyataan itu memang pantas untuk
ditertawakan. Tapi seperti di muka telah aku katakan kepadamu, semenjak aku melihatnya hatiku
dilanda kontradiksi perasaan. Aku mau mengajaknya berkenalan tapi aku malu untuk
mengatakannya. Aku berharap dapat mengenalnya lebih dekat tapi aku takut untuk memulainya.
Kawan, Tuhan itu maha pemurah. Berkali-kali Ia memberi kesempatan kepadaku untuk
mendekati si gadis, setidak-tidaknya sebagai langkah pertama untuk berkenalan. Tapi aku
dihadapan gadis itu macam maling ayam di hadapan polisi, gugup, cemas, gelisa, grogi, mau
ngomong takut salah. Berkali-kali Tuhan memberi kesempatan kepadaku, berkali-kali juga aku
menyia-nyiakannya. Mungkin Tuhan marah kepadaku atau mungkin Tuhan tidak marah, tapi
hanya menertawakan kebodohanku.
Kawan sekarang aku ingin bertanya kepadamu. Tahukah kamu apa yang sedang terjadi
pada diriku ini?
Benarkah yang kamu katakan kawan? Benarkah aku sedang jatuh cinta? Seperti inikah
rasanya orang jatuh cinta? Kalau benar aku sedang jatuh cinta, lalu apa yang harus aku lakukan?
Haruskah aku katakan pada gadis itu? Lalu bagaimanakah caranya? Seperti inikah.... aku ketuk
pintu kamarnya, saat ia muncul aku berlutut di depannya menirukan gaya seorang pangeran
bangsa Romawi yang sedang menyunting seorang putri seperti yang pernah aku lihat di sebuah
film di layar televissi. Kemudian pada gadis itu kupersembahkan setangkai kembang melati
sambil berkata ”wahai dikau wanita yang aku puja, yang entah siapa namanya, kepadamu sunggu
aku jatuh cinta”.
Aduh, kok ya jadi aneh. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba aku muncul di
depannya dan mengatakan perasaanku. Si gadis tentu melongo sambil bertanya ”siapa lu?”. iya
kalau Cuma itu, lah kalau ia tiba-tiba kena serangan jantung, syok berat kemudian masuk UGD.
Bisa-bisa aku masuk bui didakwa melakukan tindak pidana percobaan pembunuhan. Bisa hancur
masa depanku.
Kawan, setrategi pertama yang di atas itu resikonya terlalu berat. Aku tak mau hanya
karena soal mengungkapkan perasaan, aku harus berurusan dengan polisi apalagi, sampai masuk
bui. Melalui telepon jelas tidak mungkin, darimana aku dapatkan nomor HP-nya. Bagaimana
kalau melalui surat? Iya melalui surat. Nah sebenarnya diam-diam sebuah surat telah aku buat
untuk gadis itu. Kawan kamu mau tahu isi surat itu? Ini biar aku bacakan.....

Dengan penuh semangat balas dendam aku tulis surat ini untukmu
Tanpa basa-basi
Coba tebak siapakah orang yang paling aku benci? Kalau kamu bertanya, tanpa ragu, tak
perlu berpikir dua akan aku jawab dengan pasti ”kamu”.
Kenapa? Kenapa katamu! Tidakkah kamu pernah berpikir betapa kurang ajarnya dirimu.
Coba bayangkan, di tengah malam buta, di saat semua orang sedang terlelap dalam buaian mimpi
indah, kamu, ya kamu. Kamu mengendap-endap bagai garong menyelinap di ketenangan hatiku,
seenaknya berkeliaran di benakku, mengobrak-abrik pikiranku, merampok waktu istirahatku.
Bagaimana aku tidak senewen. Kelakuanmu yang seperti garong itu kamu ulangi berkalikali,
lagi, lagi dan lagi. Di setiap malam tanpa rasa belas kasihan. Entah dosa apa yang telah aku
lakukan? Entah apa salahku kepadamu hingga kau berbuat kejam seperti itu?
Dan ini puisi kutulis untukmu
DASAR MALING
Kamu yang mengendap-endap di tengah malam buta
Menyelinap di ketenangan hatiku
Berkeliaran di dalam benakku
Mengobrak-abrik pikiranku
Merampok waktu istirahatku
Pada saat mentari pagi tiba
Pada saat itu aku sadari
Hatiku telah kamu curi
Malam ini aku sudah siap berjaga-jaga
Tak mau aku kecolongan untuk yang kedua kalinya
Kututup rapat semua pintu dan jendela ruang hatiku
Tapi entah bagaimana caranya
Di pagi hari berikutnya kembali aku sadari
Kini jiwaku yang kamu curi
Malam ketiga, aku lebih waspada dari sebelumnya
Kubacakan do’a dan mantra-mantra
Kutaburkan kembang tujuh rupa
Tak lupa dupa dan kemenyan aku bakar
Belajar dari pengalaman dua malam sebelumnya
Aku hampir yakin kamu sejenis jin atau siluman
Tapi apa yang terjadi....
Mungkin ini sudah suratan nasibku
Atau barangkali karena do’a dan mantra yang aku baca tadi malam salah
Boleh jadi kamu lebih sakti dari yang aku kira
Nyatanya pagi ini kembali aku sadari
Sekarang cintaku yang kamu curi
Dasar maling!!!!
Kau dengar itu kawan? Begitulah surat yang telah aku buat. Seperti itulah surat yang
ditulis oleh orang yang mendapatkan nilai 5 pada matapelajaran bahasa Indonesianya. Tidak
gaya apalagi romantis. Kemungkinan besar surat itu dirobek-robek kemudian dibuang di tempat
sampah. Boro-boro gadis itu akan terpikat hatinya setelah membaca suratku. Yang ada aku
dicaci-makinya sepanjang malam. Makanya surat itu tidak pernah aku kirimkan.

Keesokan harinya....
Kawan, tahukah kamu sekarang aku sedang merana
dalam duka. Belum sempat aku merasakan manisnya
cinta kini, aku telah patah hati. Bagaimana tidak, belum
sempat aku mengutarakan isi hatiku, si gadis telah pergi,
minggat entah kemana. Hancur hatiku dibuatnya. Hancur
berantakan, berkeping-keping, berserakan. Kejam nian
gadis itu. Atau akulah yang teramat bodoh, kenapa tidak
aku utarakan isi hatiku selagi ada kesempatan.

Sementara itu di dinding, di sebuah kamar dua ekor cicak sedang berbincang-bincang
satu dengan yang lainnya.
Cicak 1: Kau lihat laki-laki yang di sana itu?
Cicak 2: Iya, memang kenapa?
Cicak 1: dari kemarin aku perhatikan di berbicara dengan sebuah gitar. Kasihan benar
anak-cucu Adam yang satu itu, masih muda sudah gila
Cicak 2: kamu salah kawan. Dia tidak gila, kalau sedang tergila-gila mungkin.


Tamat.

Selasa, 06 Maret 2012

Surat Buat Sahabat

Bersama kita pernah terperangkap ruang dan waktu yang tak pernah lelah menjerat
Diombang-ambingkan oleh sang nasib yang tak pernah berpihak
Didera berjuta-juta masalah yang membuat kita sempat berpikir betapa kejamnya dunia tempat kita berpijak
Dan ketika pada akhirnya kau mampu bangkit berdiri dan berlari menggalkanku seorang diri
Aku, sahabatmu, hanya mampu ucapkan selamat jalan dan do'a kebahagiaan untukmu selalu
siapa tahu di suatu masa kita akan kembali bertemu
siapa tahu persahabatan kita akan dicatat dalam buku sejarah, dibanggakan anak-cucu dan menjadi legenda
Atau malah menjadi sesuatu yang kita sesali di kemudian hari
Siapa tahu, karena seperti pada awalnya yang tak pernah terencana, pun begitu juga pada akhirnya
Apapun yang akan terjadi kelak biarlah menjadi rahasia masa depan
Kini pada saat ini biarkan kenangan itu kita nikmati sebelum masa tua merenggutnya dari kita.

Indramayu, 04-03-12

Selasa, 24 Januari 2012

D’Story Van TK Putra

Duduk di bangku taman di antara orang-orang yang tidak aku kenal
Aku sangka kamu malaikat atau dewi dari taman firdaus
Saat pertama kali aku melihatmu
Hatiku tersandung dan terjatuh
Kemudian dengan alasan pasti
Malam semakin panjang aku lalui
Salam dariku yang kamu balas
Membuat aku mabuk kepayang
Senyum manis yang kamu berikan
Membuat aku terkapar, menggelepar
Aku tak kuasa melawan
Ketika terjerumus ke dalam lautan asmara yang menggelora
Cintaku padamu seperti nyala api
Berkobar, membakar, membabi-buta
Cintaku padamu seperti amuk tsunami
Menerjang, menelan, menghanyutkan
Cintaku padamu, andai kamu tahu
Mampu membunuh perasaanku pada wanita (lain)
Jalan berliku terpaksa kita tempuh
Saat kau datang membawa topan badai
Katamu “aku dijodohkan tolong bawa aku kemanapun kau mau”
Tidak terasa waktupun berlalu
Sekarang, pada saat ini
Setiap malam aku ditikam penyesalan
Aku kutuki kemunafikanku
Sumpah serapah kutelan atas kebodohanku
Caci maki sepantasnya menjadi hakku
Menjerit aku dalam sepi
Ku panggil namamu dalam pekat gelap malam
Nia! Nia! Nia!
Sunyi
Sepi
Peku membunuh
Tidak ada jawaban darimu
Aku terkapar dalam kerinduan
Ingin ku bunuh saja perasaaanku padamu
Tapi aku tak mampu
Sering di tengah malam buta aku terjaga
Terbangun dari tidurku
Aku berharap ada kamu di sisiku
Tetapi tidak, hanya kesunyian yang menemaniku
Pada saat intu aku benci pada diriku sendiri.

28 Nov’ 11

Kamis, 29 Desember 2011

AKU DAN ANAK KECIL ITU

Jakarta di siang hari ibarat berada di depan pintu neraka. Kau pernah ke pintu neraka? Cobalah sekali-kali main ke sana, kalau aku terus terang belum pernah. Panas menyengat. Sinar matahari seakan membakar seluruh tubuh. Panasnya terasa ke ujung kepala. Itu belum seberapa. Masih ditambah dengan hiruk-pikuk lalu lintas kota. Suara bising kendaraan yang lalu-lalang. Salakkan klakson sahut-menyahut bagai anjing hutan kelaparan. Teriakan kondektur bus kota memanggil calon penumpang, kadang makian dan umpatan terlontar sambil menyebut penghuni kebun binatang Ragunan. Suara-suara itu berjejalan masuk ke telingaku tak kenal ampun. Entah kenapa keramahan dan keindahan kota Jakarta yang sering terlihat di layar televisi? Atau memang ini wajah aslinya?

Pentas kota raya ini aku saksikan di bawah naungan salah satu halte bus kota di jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Kau tentu tahu Tugu Selamat Datang dengan air mancur melambai-lambai. Dari tempat aku duduk sekarang, aku dapat melihat tinggi menjulang patung pria wanita itu berdiri. Sudah berapa lama meraka di sana? Kasihan sekali nasib mereka.

Seorang anak laki-laki datang menghampiriku. Dari topi yang ia pakai terlihat gambar lambang partai politik peserta pemilu. Kaus biru lusuh, luntur warnanya mungkin karena keseringan dipakai dan dicuci. Celana pendek hitam yang ia kenakan tidak lebih baik keadaanya. Dan yang melindungin telapak kakinya dari sengatan panasnya aspal adalah sandal jepit merek Swallow.

“Sepatunya mau disemir om?” tanya sang bocah. Matanya memancarkan cahaya penuh pengharapan. Terdengar lebih sebagai permohonan dari pada pertanyaan.

“Maaf dik”, kepalaku menggeleng pelan.

Mendengar jawaban dariku ia nampak kecewa. Seketika pancaran di bola matanya padam. Akan tetapi mengembang juga senyum lugu dari bibir mungilnya. Mungkin ia sedang menabahkan diri atau sudah terbiasa menerima penolakan. Kemudian ia pun duduk di halte yang sama dengan ku. Tidak terlalu dekat. Kotak semirnya ia letakkan di atas paha. Kakiknya bergoyang-goyang, boleh jadi di dalam hati ia sedang berdendang.

Lihat anak sekecil itu, kutaksir umurnya tidak lebih dari 8 tahun, seharusnya berada di dalam kelas sedang menerima cahaya ilmu dari guru teladan. Atau sedang bermain dengan anak-anak seusianya menikmati masa kecil bahagia. Dia masih teramat muda untuk hidup di jalan kota besar. Baik fisik maupun mentalanya masih sangat rapuh untuk menghadapi kerasnya kehidupan. Di rimab raya kota Jakarta apapun bisa terjadi. Cukup sering diberitakan baik di televisi maupun di surat kabar, anak seusianya menjadi korban kekerasan, pemerasan, pelecehan seksual dan tindak kejahatan lainnya.

Aku palingkan pandanganku dari anak kecil itu, tak sanggup aku melihatnya. Berkelebat di dalam pikiranku, bagaimana kalau anakku nanti bernasib seperti anak itu? Bagaimana kalau anak itu ternyata anakku? Ah, aku tak sangguh membayangkan betapa teriris-irisnya perasaan hatiku.

Aku dan anak kecili itu, nasibku tidak lebih baik darinya.

Tiga bulan yang lalu aku masih bekerja dengan gaji yang tak mungkin bisa membuat aku cepat menjadi orang kaya. Akan tetapi setidak-tidaknya nasibku lebih baik dari mereka yang masih berada di dalam antrian panjang para pengangguran. Itu tiga bulan yang lalu sebelum perusahaan di mana aku bekerja mengeluarkan kebijakan “restrukturisasi”, demikian istilah yang mereka pakai untuk mengusirku.

Dipecat, kenapa harus takut? Aku masih muda. Umurku baru 29 tahun. Lajang tanpa kewajiban menafkahi anak-istri. Pemecatan bukan akhir dari segalanya, bukan kiamat. Demikian aku menghibur diri sendiri. Sumpah ini sulit. Kenyataannya pemecatan itu bagai pukulan telak bagiku. Siapapun tahun biaya hidup di kota ini. Jangankan untuk makan-minum, sekedar untuk menunaikan hajat ketika kebetulan sedang kebelet pipis di terminal itu pun harus bayar. Bukan omong kosong kalau ada yang bilang bahwa di Jakarta apapun bisa dijadikan uang, atau dengan kata lain apapun harus dengan uang. Dan ketika mendadak aku kehilangan satu-satunya sumber penghasilanku aku menjadi limbung seperti seorang petinju terkena pukulan bertubi-tubi.

Roda kehidupan selalu berputar, kadang berada di atas, kadang berada di bawah. Jatuh bangun dalam hidup adalah hal biasa. Sekarang aku sedang berada di bawah putaran roda sang nasib. Tinggal bagaimana aku kembali bangkit dan bergerak maju. Aku yakin suatu saat nanti sang nasib akan membawaku ke puncak kehidupan. Aku yakin akan hal itu, aku harus yakin. Keyakinan itu jua yang membawaku sampai ke halte bus ini, membawa beberapa map berisi berkas-berkas lamaran kerja. Tak lupa di dalam hati aku berdo’a, semoga ada satu dua perusahaan yang membutuhkan darah segar untuk kembali diperas.

Sampai pada saat ini sudah 4 perusahaan yang aku datangi. Sungguh aneh, di kantor-kantor perusahan itu aku mengalami kejadian yang hampir sama. Resepsionisnya wanita cantik rupawan, menyambutku dengan senyum mengembang, menanyakan keperluanku dengan tutur kata halus lagi sopan, setelah aku jawab maksud dan tujuanku, resepsionis-resepsionis itu berkata “maaf untuk saat ini di perusahaan kami belum ada lowongan”. Sebagai penutupnya kemabli aku dihadiahi senyum yang tidak kalah manisnya dari yang pertama. Entah ini suatu kebetulan atau memang sudah menjadi standar baku di setiap perusahaan. Kepada resepsionis itu ingin aku katakan “bagaimana kalau aku melamarmu untuk menjadi istriku, apa kau menolakku juga?”. Tentu saja mereka akan menolak seorang pengangguran seperti aku ini.

Aku dan anak kecil itu, masih duduk di halte bus kota yang sama.

Melihat nasib anak itu dan nasibku sendiri rasa-rasanya ada yang salah di negeri tercinta ini. Di negeri yang terkenal akan subur tanahnya dan melimpah ruah sumber daya alamnya. Aku jadi bertanya-tanya kemana perginya semua sumber daya alam itu? Melihat gedung-gedung pencakar langit yang berdiri megah di sekitarku akupun bertanya-tanya, di nama nilai-nilai suci yang terkandung di dalam dasar negara, Pancasila? Apakah keberketuhanan seseorang ditujukan hanya di tempat ibadah dan pada saat peringatan hari besar keagamaan saja? Apakah kemanusiaan yang adil dan berada hanya kalimat suci tanpa perlu bukti? Apakah persatuan, hanya persatuan yang berdasarkan kesamaan kepentingan golongan bukan kepentingan bangsa? Apakah musyawarah mufakat hanya untuk melegalkan ambisi-ambisi golongan tertentu, segelintir orang yang mempunyai kekuasaan? Apakah keadilan sosial hanya sebagai dongeng sebelum tidur? Apakah……..

Belum lama berselang ramai diberikatan seorang koruptor dijemput dari luar negeri. Dijemput! Di lain pihak, maling motor kalau lagi beruntung paling-paling masuk bui, kalau sedang bernasib sial bisa diamuk massa sampai mati. Untuk mencegah para pejabat melalukan tindak pidana korupsi, ada yang mengusulkan untuk menaikan gaji dan tunjangan. Usul yang hebat. Entah apa yang diusulkannya demi mengetahui seorang nenek tua renta dihukum karena mencuri untuk sekedar membungkam rasa lapar.


Kalau ada yang harus disalahkan maka pilihat favorit jatuh pada pemerintah. Di terminal, warung kopi, tempat diskusi dan di ruang kuliah sering terdengar-pertanyaan-pertanyaan sinis seperti, abdi negara kok minta dilayani? Bagaimana bisa becus mengurus negara kalau sering keluyuran pada jam kerja? Gaji, fasilitas, tunjangan ini dan itu apa masih kurang, kok ya masih korupsi juga?


Hai, lancang benar dirimu bung! Lalu apa yang telah kamu berikan kepada bangsa dan negaramu? Nol besar, itu kalau kau mau tahun. Apa kamu mau jadi pahlawan bagi anak kecil itu? Menyedihkan sekali. Lihatlah keadaanmu tidak lebih baik darinya. Dan kemana saja kau selama ini? Dulu ketika kamu masih bekerja, kamu terlalu sibuk mengejar ambisi-ambisi pribadimu sendiri tanpa sedikitpun pernah perduli kepada keadaan di sekelilingmu. Di saat kamu sudah tidak punya kemampuan untuk membantu sesamamu kamu seakan-akan menjelma menjadi orang suci. Buat apa kalau yang bisa kamu lakukan hanya omong besar, tidak ada gunanya sama sekali. Kalau kamu ingin tahu, ibu pertiwi sudah muak dengan manusia macam kamu, sudah cukup banyak di negeri ini. Suara-suara ini tak lain berasal dari hatiku sendiri. Sungguh pahit mengetahui itu benar. Sungguh pahit walau terpaksa aku telan.


Aku dan pengkritik yang paling pedas sekalipun, siapakah yang bisa menjamin ketika diberi suatu jabatan tidak melakukan seperti orang yang dikritiknya. Atau jangan-jangan aku ini bukan korban dari ketidakadilan, tapi seorang pemangsa yang belum dapat kesempatan.


Aku dan anak kecil itu siapakah yang lebih tahu?

Rabu, 07 Desember 2011

Segelas Kopi Penuh Ironi

Segelas kopi hitam pekat sedikit berbusa Menemaniku pagi ini Mengawali hariku yang cerah, hari yang indah Berita koran pagi belum aku baca, tergeletak di atas meja Tapi dari melihat judul-judulnya saja Aku merasa yakin betapa suram nasib bangsa ini kelak dikemudian hari Teguk kopi pertama Sejumlah politisi Senayan diperiksa KPK Teguk Kopi Kedua Prilaku amoral semakin mewabah Teguk kopi ketiga Kesenjangan sosial semakin melebar Teguk kopi keempat Demo kaum buruh menuntut keadilan Teguk kopi kelima Aku bertekad berhenti membeli koran Kopi hitam pekat telah tandas Yang tersisa hanya ampas kopi di dalam gelas Mungkin begitu juga yang tersisa bagi anak-cucu generasi bangsa Dan nanti akan dicatat dalam sejarah Generasi sekarang hanya meninggalkan timbunan berjuta-juta masalah. Jakarta, Nov. 2011 Puisi terkait Penyesala Tiada Akhir

Sabtu, 24 September 2011

Sinopsis

Novel ini mengisahkan kehidupan Elang Kelana, seorang wartawan muda surat kabar ibu kota. Di sela-selankesibukannya sebagai jurnalis, Elang merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Ia lihat orang-orang yang berada di sekelilingnya. Banyak diantara teman-teman seprofesinya yang sudah menikah. Sedang ia jangankan istri, pacar saja tidak punya. Tidak jarang Elang digugat oleh perasaan dan pikirannya sendiri, satu sisi, ia merindukan kehadiran seorang kekasih. Di sisi yang lain, ia dihantui masa lalu kisah cintanya yang kelam.
Namun siapa sangka, tanpa sepengetahuan Elang ada seorang wanita yang mencintainya dengan segenap jiwa dan raga. Wanita itu adalah Naya. Pada Elang, Naya telah jatuh cinta. Jatuh cinta pada pandangan pertama sejak mereka bertemu untuk pertama kali di bangku kuliah. Sejak itu, selama bertahun-tahun, dengan sabar Naya menunggu, menunggu suatu hari dimana cintanya pada Elang akan berbalas.
Ketika Elang sadar bahwa dirinya telah menyia-nyiakan cinta Naya, cinta sejati yang selama ini ia cari-cari, pada saat itu Naya dalam keadaan kritis di rumah sakit.
Kisah cinta antara Ealang dan Naya dpenuhi drama, petentangan batin, romantisme, dengan akhir cerita yang tidak diduga-duga. Penuh kejutan dan menguras air mata.

Jumat, 23 September 2011

Sajak Buat Sahabat

Bung! Ayo Bung!
Bacakan sajakmu yang penuh api semangat
Tentang serdadu di medan perang
Tentang kesaktria di medan laga
Tentang kau punya cita-cita

Semangat, bung! Semangat!
Kayu terus bidukmu menuju samudera
Taklukan gelombang ombak lautan
Buat sang angin bersimpuh di bawah telapak kakimu
Mari kita buktikan....
Dari apa kita diciptakan
Untuk apa kita dilahirkan
Sebagai pecundang atau PEMENANG

jakarta. 23 sep. 2011. 00:19

Rabu, 03 Agustus 2011

Penyesalan Tiada Akhir

Wanita berkerudung di mega langit senja
Kupanggil, ia tidak bergeming, tak juga berpaling
Ingin kugapai, ingin kurengkuh
Semakin kukejar semakin ia menjauh
Kucoba menghapus dari ingatan
Semakin mencoba, semakin ia menjelma jadi raksasa
Aku mulai lelah
Kubacakan puisi untuk menghibur diri sendiri
Yang keluar dari mulutku bukan kata tapi erang kesakitan
Aku runtuh dan terjatuh
Wahai wanita berkerudung di mega langit senja
Andai kesempatan berkali-kali datang dan bisa diraih
Andai roda sang waktu bisa diputar berbalik arah
Andai kita bisa mengubah alur sejarah
Pasti kini kita tidak akan terluka
Tapi kini yang tersisa hanya batu nisan
Dengan namaku bersimbah air matamu
Dengan nisanmu di samping kuburku

Rabu, 22 Juni 2011

Menanti Dalam Pencarian

Aku yang berada di tengah malam buta
Aku yang terperangkap dalam kerinduan
Kala sunyi menikam
Kala sepi menghujam
Memanggil-manggil aku pada ia yang entah siapa
Dia yang tercipta untuk menemani hidupku

Wahai sepihan tulang yang tercerabut dari rusuk yang aku punya
Di belahan bumi manakah engkau terjatuh
Belumkah kamu temui
Jalan pulang ke tempat di mana sebelum engkau diciptakan
Aku di sini masih mencari jejak langkah yang engkau tinggalkan
Aku di sini masih menunggu satu hari dimana kita akan pertemukan
Jakarta 20 juni 2011

Senin, 20 Juni 2011

TANGIS JAKARTA

Kelahiranku meminta tumbal ribuan nyawa
Tanyakan pada Sultan Agung
berapa banyak laskarnya bergelimpangan
Jadi jangan kau minta belas kasihku
Karena aku bukan gadis lugu kembang desa
Yang bisa ditaklukan hanya dengan bujuk rayu dan puji-pujian
Cukup banyak yang telah mati dalam pelukanku
Tanyakan pada Arif Rahman Hakim, Elang Maulana dan kawan-kawan mereka
Sehangat apa pelukanku?
Jadi jangan katakan demi cinta
Sebesar apa cintamu padaku dibandingkan mereka?
Aku Jakarta
Tubuhku terlalu rapuh memikul harapan-harapan semua kekasih yang tak kuundang
Jadi salahkah aku bila hanya memilih para pemenang

Kamis, 31 Maret 2011

AKU SANG PELACUR

(“Tarif berdasarkan negosiasi. Kalau berminat silahkan datang ketempat biasa aku mangkal”)

Katanya, ini baru katanya. Orang yang terlalu lama hidup jadi pengangguran bisa terkena penyakit syaraf alias gila. Percaya tidak percaya, tapi kalau membayangkan akal sehat minggat dari batok kepalaku merinding hati ini dibuatnya. Sumpah demi Tuhan menjadi orang gila bukan impianku. Jadi, sebelum aku kehilangan kewarasanku, sebelum aku keluyuran tanpa memakai baju dan celana, sebelum anak-anak kecil meneriakiku dari belakang, sebelum semua itu terjadi aku putuskan untuk melacurkan diri. Kuucapkan selamat tinggal pada sederet profesi gagah perwira yang pernah aku impikan saat baru diwisuda. Kupadam-padamkan ambisiku untuk menjadi PNS, eksekutif muda atau pengusaha. Motto yang aku anut sekarang kerja apa saja yang penting halal dan menghasilkan uang. Dan pada akhirnya disinilah keberadaanku kini, di belakang kemudi sebuah kendaraan berroda tiga yangdikenal dengan nama bajaj.

Dari mahasiswa generasi penerus bangsa, lulus kuliah ego sedikit bengkak karena telah menjadi seorang sarjanah, kemudian terjun bebas menjadi pengangguran dan sekarang aku merangkak menjadi supir babaj. Begitulah kira-kira karir kehidupanku.

Apa hebatnya menjadi supir bajaj? Memang tidak hebat. Bukan bermaksud berargumentasi atau berapollogia, profesi apappun yang dijalani oleh seseorang tidak lebih tinggi atau lebih rendah kedudukannya dari profesi yang lain. Seorang presiden tidak ada artinya sama sekali tanpa adanya rakyat, demikian gambaran sederhananya. Kalau masih ada orang yang mengaku profesi yang digelutinya lebih hebat dari profesi yang lain ada baiknya disarankan untuk mengulang kembali sekolahnya mulai dari SD.

Memang benar, dari sekian macam cita-cita yang pernah disebutkan oleh para siswa di depan kelas menjadi supir bajaj tidak termasuk diantaranya. Tapi jangan dulu lantas mengira bahwa tidak ada sedikitpun kebanggaan dalam menjalani profesi yang satu ini. Paling tidak, dengan menjadi supir bajaj kami tidak dicap sebagai pengangguran. Setidak-tidaknya apa yang kami makan hasil dari keringat sendiri. Setidak-tidaknya kami merasa lebih terhormat dari mereka yang mempunyai rumah mewah, mobil mentereng, pakaian keren dan segala macam perhiasan mahal, tapi semua yang mereka miliki itu berasal dari hasil korupsi.

Perlu untuk diketahui, menjadi supir bajaj itu perbuatan mulia karena membawa misi kemanusiaan. Dengan menjadi supir bajaj seseorang bisa menolong orang lain dari beban penderitaan. Misalnya saja, ada orang yang hendak berpergian dari pasar Tanahabang menuju terminal Pulogadung. Kalau perjalanan itu ditempuh dengan berjalan kaki bisa dibayangkan betapa menderitanya orang tersebut. Badan capek, nyeri otot, pegel linu dan panasnya sengatan matahari sudah pasti dirasakan. Itu belum menghitung berapa banyak waktu yang dihabiskan. Disinilah misi kemanusiaan supir bajaj berperan. Dengan adanya bajaj dan supir bajaj tak usalah semua penderitaan itu dirasakan, tinggal naik bajaj, duduk tenang di dalamnya, nikmati perjalanan dan suasana kota. Bisa juga sambil memperbarui status di Face Book. Beritahukan saja pada teman-teman sekarang sedang berada di dalam mobil Limosin bersama presiden Obama, jalan-jalan keliling Jakarta.

Jangan mempermasalahkan biaya transfortasi yang harus dibayar. Apalah artinya sejumlah uang jika dibandingkan dengan kesehatan diri dan efesiensi. Kalau ada yang mau naik bajaj gratis harap sabar menanti sampai bensin bisa didapat tanpa harus membeli, onderdil bajaj bisa diperoleh dengan cuma-cuma, pemerintah tidak menetapkan pajak kendaraan, tidak ada pungli ini dan itu, kalau semua itu terlaksana bolehlah naik bajaj digratiskan.

Diakui atau tidak, bajaj sudah menjadi ikon kota Jakarta. Silakan cari dari Sabang sampai Merauke, di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini dimana yang ada bajajnya? Ya hanya di Jakarta! Boleh percaya boleh tidak. Cukup banyak wisatawan yang datang dari luar Jakarta atau dari mancanegara berfoto dan bergaya di depan bajaj. Makanya sungguh sangat disayangkan dan patut dikasihani kalau ada orang yang sudah lama tinggal di Jakarta tapi sekalipun belum pernah naik bajaj. Kemana saja selama ini? Kasihan sekali.

Pernah ada yang bilang, dengan nada menyalahkan, bahwa supir bajaj adalah orang yang paling sering melanggar peraturan lalu-lintas. Orang yang bilang semacam itu sungguh sangat patut dicurigai mempunyai itikad buruk pada pemerintah. Faktanya supir bajaj adalah warga Negara yang sangat patuh pada pemimpinnya. Apapun yang dicontohkan oleh pimpinan pasti diteladani. Bicara tentang peraturan, kami tahu ada peraturan. Masalahnya kami tidak terlalu paham untuk apa peraturan itu dibuat. Untuk mengetahuinya kami tinggal menengada ke atas, mencontoh pada pejabat Negara. Disana kami saksikan banyak abdi Negara yang melanggar peraturan. Kesimpulan yang kami dapat, peraturan dibuat untuk dilanggar.

Masa menteladani pimpinan dianggap salah? Yang benar saja!

Yang paling mengherankan dan tidak masuk akal. Pernah terdengar ada orang yang mengusulkan supaya bajaj dimusnahkan saja dari bumi Ibu Pertiwi. Siapapun yang mempunyai usul ngawur amburadul itu dimohon dengan sangat hormat untuk duduk sejenak, lakukanlah meditasi atau gerakan Yoga. Jangan lupa setel music klasik simfonie 13 dari Mozart. Setelah itu berpikirlah dengan hati dingin dan pikiran jernih. Coba tanyakan pada diri sendiri; kalau bajaj dihapus pekerjaan apakah yang tersedia bagi supir bajaj untuk beralih profesi? Kalau belum ada, sanggupkah untuk mengadakannya? Kalau belum terpikirkan sampai kearah itu, coba tanyakan; kalau bajaj dihapus dan belum ada profesi lain bagi supir bajaj beralih profesi, lalu dari mana mereka memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka? Kalau semua pertanyaan diatas belum terjawab dan solusi belum ditemukan, dari pada repot-repot menghapus bajaj, lebih baik kumpulkan para supir bajaj bersama keluarganya di sebuah tanah lapang. Kemudian bom tanpa ampun. Membunuh secara cepat rasa-rasanya lebih manusiawi dari pada membunuh secara perlahan.

***

“Bang! Bengong aja lu” tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunanku. Seorang wanita muda telah berdiri di dekatku. Wajahnya cantik, bodynya lamlohai aduhai dan kulitnya kuning langsat memikat. Bening sinar matanya memancarkan sinyal mengundang dan dari bibir mungil merah muda merekah seuntai senyum manis, semanis kembang gula. Bahtera hatiku bergoncang dibuatnya.

“Ah, mbak, bikin saya kaget saja. Bajaj mbak?” tanyaku tak lupa memasang senyum manis ala kaum kapitalis.
“saya juga sudah tahu itu bajaj, bang”.
“Maksud saya, mbak mau naik bajaj”.
“Mau sih mau, bang. Tapi bayar?”.
“Ya bayarlah mbak”. Jawabku sambil di dalam hati meneruskan, tapi kalu mbak mau jadi isteriku bolehlah tidak bayar.
“Saya kira gratis…”
“Gratis dari Hongkong” balasku agak keki.
“Oh..kalau naik dari Hongkong gratis ya bang. Kalau begitu saya naik dari Hongkong saja, biar gratis. Tapi ngomong-ngomong di Hongkong ada bajaj, bang?”.

Aku melongo.
Si nona cantik cekikikan menahan tawa.
Sebagai penutup dari kisah ini perlu juga dicatat, untuk menjadi supir bajaj seseorang harus berjiwa besar dan berhati sabar. Karena tidak jarang harus berhadapan dengan calon penumpang yang sangat menyebalkan.
Jakarta, 7-2-11
Pukul: 01,32 menit

Jumat, 28 Januari 2011

ISTANA HATI

Maukah kamu menunjukan jalan kepadaku
Jalan menuju istana hatimu
Kalau aku telah sampai di sana, maukah kamu membukakan pintunya untukku
Jangan terburu-buru karena aku mau menunggu
Kalau masih ada ruang kosong, sebuah kamar atau tak apalah kalau yang tersisa hanya cela di ruang tamu
Izinkan aku untuk singgah, menginap atau tinggal untuk selamanya
Dan jika kamu mencari dirimu dalam diriku
selamilah bening danau mataku
Ikuti arus sungai darahku
Jangan berhenti sampai kau bertemu istana bernama hati
Bukalah pintunya maka disana akan kamu temui dirimu bertahta