Dia yang kucinta
Dia yang kurindu hadir di sisiku
Di kala pagi, siang, sore dan malam hari
Lalu kan kuceritakan pada dunia bahwa kami sangat bahagia
Biarlah seisi dunia iri kepada kami
Kami yang sejiwa, kami yang bahagia
Duhai kekasih belahan hati
Tak luput sedetikpun dirimu dalam benakmu
Seiring gerak jarum jam aku dibuatnya semakin kasmaran
Kepadamu ya kepadamu
Lalu di kala gelap malam kubermunajat dalam do'a-do'a
Semoga pada akhirnya kita kan dipersatuankan dalam tali suci perkawinan
Amien amien ya Robal 'alamin
Jakarta 15/01/2016
Jumat, 26 Agustus 2016
Dalam Remang Malam
Dalam remang malam, kutafakur
Di atas sejadah usang tak surut tangisku
Air mata, air mata hanyalah sebagian kecil dari bukti kefanaan manusia
Aku tersuruk semakin dalam, dalam kefanahan
Do'a-do'a yang kupanjatkan membaur, memantul membanjiri langit-langit kamarku
Aku harap do'a-do'a itu terselip diantara sayap malaikat lalu terbawa sampai langit ketujuh
Karena aku tahu do'a-do'aku terbebani oleh dosa-dosa
Tak kan sudi malaikat dengan sadar membawanya.
Jakarta 07/01/2016
Di atas sejadah usang tak surut tangisku
Air mata, air mata hanyalah sebagian kecil dari bukti kefanaan manusia
Aku tersuruk semakin dalam, dalam kefanahan
Do'a-do'a yang kupanjatkan membaur, memantul membanjiri langit-langit kamarku
Aku harap do'a-do'a itu terselip diantara sayap malaikat lalu terbawa sampai langit ketujuh
Karena aku tahu do'a-do'aku terbebani oleh dosa-dosa
Tak kan sudi malaikat dengan sadar membawanya.
Jakarta 07/01/2016
Yang Bertahta di Jiwa
Kesendirianku kujalani sepanjang waktu
Karena tanpamu ramainya dunia tak nampak di mata
Aku merindukanmu, sungguh rindu
Aku mencintaimu, sungguh cintaku
Rinduku mendendam
Cintaku membakar
Hangus hati ini dibuatnya
Goyah jiwa ini karenanya
Berlari, kucari tempat sembunyi
Namun disetiap sudut ruang dan waktu yang kutemui hanya dirimu
Aku gelisah diamuk rasa
Aku limbung diterjang nestapa
Lalu aku pun terjatuh sambil memanggil-manggil namamu
Jakarta 05/01/2016
Karena tanpamu ramainya dunia tak nampak di mata
Aku merindukanmu, sungguh rindu
Aku mencintaimu, sungguh cintaku
Rinduku mendendam
Cintaku membakar
Hangus hati ini dibuatnya
Goyah jiwa ini karenanya
Berlari, kucari tempat sembunyi
Namun disetiap sudut ruang dan waktu yang kutemui hanya dirimu
Aku gelisah diamuk rasa
Aku limbung diterjang nestapa
Lalu aku pun terjatuh sambil memanggil-manggil namamu
Jakarta 05/01/2016
Gamang
Langkahku gamang
Menelusuri jalan yang tak kukenal
Dan, dimana akhir dari perjalanan ini aku tak tau.
Gelap
Gelap
Gelap gulita
Hitam
Hitam
Hanya hitam yang terlihat
Pedih
Pedih
Hanya pedih yang kurasakan
Oh Tuhan,
Kini telah mati segumpal darah beku dalam tubuhku; hatiku.
Jakarta 18 Okt. 2015
Menelusuri jalan yang tak kukenal
Dan, dimana akhir dari perjalanan ini aku tak tau.
Gelap
Gelap
Gelap gulita
Hitam
Hitam
Hanya hitam yang terlihat
Pedih
Pedih
Hanya pedih yang kurasakan
Oh Tuhan,
Kini telah mati segumpal darah beku dalam tubuhku; hatiku.
Jakarta 18 Okt. 2015
Dilema
Mata merah dan basah
sebuah mata pisau menempel di atas urat darah tangan kirinya
"Pergi......!" katanya mengancam "Silakan pergi!" kembali ia mengerang dengan nada marah, penuh luka dan putus asa.
Di ambang pintu, aku gamang menatap pada kilat mata pisau itu.
Tas yang aku sandang dipundak makin berat saja rasanya, padahal isinya hanya beberapa setel baju. baju-baju itu seakan berubah menjadi batu yang beratnya berton-ton di pundakku.
Jakarta 29 juli 2015
sebuah mata pisau menempel di atas urat darah tangan kirinya
"Pergi......!" katanya mengancam "Silakan pergi!" kembali ia mengerang dengan nada marah, penuh luka dan putus asa.
Di ambang pintu, aku gamang menatap pada kilat mata pisau itu.
Tas yang aku sandang dipundak makin berat saja rasanya, padahal isinya hanya beberapa setel baju. baju-baju itu seakan berubah menjadi batu yang beratnya berton-ton di pundakku.
Jakarta 29 juli 2015
Demi Masa
Demi masa...
Manusia benar-benar dalam kerugian
Selalu disibukan oleh angan-angan yg menipu
Sangkanya keinginan selalu pasti berubah jadi nyata
Ketahuilah bahwa waktu sering menipu
Menina-bobokan manusia hingga lupa
Bahwa kesempatan bagai kilatan cahaya
Sesaat datang kemudian menghilang
Di akhir masa menikam dalam bentuk penyesalan
Jakarta 08 juli 2015
Waktu Sebelum Subhu
Kau terperangkap di sisa malam yang lalu
Kau tak tahu pada siapa ‘kan mengadu
Pada angin, lintang-lintang, awan atau sisa hujan tadi malam
Kemudian seakan terdengar suara genderang perang yg ditabuh bertalu-talu saat
deru nafas memburu menahan nafsu, amarah, dendam dan ambisi tak tergapai
membaur, memantul, membuat hati yg sesak semakin rusak
Dan suara kebisingan dari arah yg terduga, berjuta-juta harapan, menjejali hati dan pikiran seakan mudah jadi nyata
Kemudian ketika suara azan memanggil
Mengisi kekosongan jiwa atau menangisi
Kau terpaku dalam keheningan, membeku dalam hilang akal.
Waktu sebelum subhu,
Diatas sejadah usang
Dalam sujud yang entah atasnama siapa, atau apa
Kutahu kau menangis
Air matamu bagai hujan deras tadi malam
Entah apa yang kau tangisi atau untuk siapa
Sisa hujan semalam sisakan gerimis, seperti tangisan atas jiwa yg gelisah diatas sejadah usang
Kutahu dalam bisik lirih do'a-do'amu, kau ingin mati muda
Bukan karena putus akan rahmatNya di dunia, tapi karena kerinduanmu padaNya.
Jakarta 17 juni 2015
Kau tak tahu pada siapa ‘kan mengadu
Pada angin, lintang-lintang, awan atau sisa hujan tadi malam
Kemudian seakan terdengar suara genderang perang yg ditabuh bertalu-talu saat
deru nafas memburu menahan nafsu, amarah, dendam dan ambisi tak tergapai
membaur, memantul, membuat hati yg sesak semakin rusak
Dan suara kebisingan dari arah yg terduga, berjuta-juta harapan, menjejali hati dan pikiran seakan mudah jadi nyata
Kemudian ketika suara azan memanggil
Mengisi kekosongan jiwa atau menangisi
Kau terpaku dalam keheningan, membeku dalam hilang akal.
Waktu sebelum subhu,
Diatas sejadah usang
Dalam sujud yang entah atasnama siapa, atau apa
Kutahu kau menangis
Air matamu bagai hujan deras tadi malam
Entah apa yang kau tangisi atau untuk siapa
Sisa hujan semalam sisakan gerimis, seperti tangisan atas jiwa yg gelisah diatas sejadah usang
Kutahu dalam bisik lirih do'a-do'amu, kau ingin mati muda
Bukan karena putus akan rahmatNya di dunia, tapi karena kerinduanmu padaNya.
Jakarta 17 juni 2015
Waktu Sebelum Subhu
Kau terperangkap di sisa malam yang lalu
Kau tak tahu pada siapa ‘kan mengadu
Pada angin, lintang-lintang, awan atau sisa hujan tadi malam
Kemudian seakan terdengar suara genderang perang yg ditabuh bertalu-talu saat
deru nafas memburu menahan nafsu, amarah, dendam dan ambisi tak tergapai
membaur, memantul, membuat hati yg sesak semakin rusak
Dan suara kebisingan dari arah yg terduga, berjuta-juta harapan, menjejali hati dan pikiran seakan mudah jadi nyata
Kemudian ketika suara azan memanggil
Mengisi kekosongan jiwa atau menangisi
Kau terpaku dalam keheningan, membeku dalam hilang akal.
Waktu sebelum subhu,
Diatas sejadah usang
Dalam sujud yang entah atasnama siapa, atau apa
Kutahu kau menangis
Air matamu bagai hujan deras tadi malam
Entah apa yang kau tangisi atau untuk siapa
Sisa hujan semalam sisakan gerimis, seperti tangisan atas jiwa yg gelisah diatas sejadah usang
Kutahu dalam bisik lirih do'a-do'amu, kau ingin mati muda
Bukan karena putus akan rahmatNya di dunia, tapi karena kerinduanmu padaNya.
Jakarta 17 juni 2015
Kau tak tahu pada siapa ‘kan mengadu
Pada angin, lintang-lintang, awan atau sisa hujan tadi malam
Kemudian seakan terdengar suara genderang perang yg ditabuh bertalu-talu saat
deru nafas memburu menahan nafsu, amarah, dendam dan ambisi tak tergapai
membaur, memantul, membuat hati yg sesak semakin rusak
Dan suara kebisingan dari arah yg terduga, berjuta-juta harapan, menjejali hati dan pikiran seakan mudah jadi nyata
Kemudian ketika suara azan memanggil
Mengisi kekosongan jiwa atau menangisi
Kau terpaku dalam keheningan, membeku dalam hilang akal.
Waktu sebelum subhu,
Diatas sejadah usang
Dalam sujud yang entah atasnama siapa, atau apa
Kutahu kau menangis
Air matamu bagai hujan deras tadi malam
Entah apa yang kau tangisi atau untuk siapa
Sisa hujan semalam sisakan gerimis, seperti tangisan atas jiwa yg gelisah diatas sejadah usang
Kutahu dalam bisik lirih do'a-do'amu, kau ingin mati muda
Bukan karena putus akan rahmatNya di dunia, tapi karena kerinduanmu padaNya.
Jakarta 17 juni 2015
Rapuhku Tanpamu
Berjuta-juta dera menderu hati yg berusaha lapang
Pada cobaan hidup yang tak mengenal belas kasihan
Aku terus berusaha tegar
Walau limbung juga aku dibuatnya, limbung diamuk nestapa sendiri
Aku tak tahu pada siapa akhirnya tubuhku terjatuh, mungkin hanya bumi yg mau memeluk tubuhku
Jakarta 22 mei 2015
Pada cobaan hidup yang tak mengenal belas kasihan
Aku terus berusaha tegar
Walau limbung juga aku dibuatnya, limbung diamuk nestapa sendiri
Aku tak tahu pada siapa akhirnya tubuhku terjatuh, mungkin hanya bumi yg mau memeluk tubuhku
Jakarta 22 mei 2015
Episode Sakit Hati
Belumkah terbaca hatiku yang hitam hangus terbakar
Sudahlah kau campakan aku,
kini hendak kau raih untuk dicampakan kembali
Tidak, sekali-kali tidak
Sudah cukup kau buat aku menderita
Jangan pula kau katakan cinta padaku
Cinta macam apa yang kau tawarkan
Cinta permainan itulah yang kau punya
Tidak lebih, tidak kurang
Jadi apa yang dapat aku harapkan darimu
Sudah terpahat dalam benaku,
bersamamu penderitaanlah yang akan aku rasakan sepanjang jalan sisa umurku
Jadi masihkah ada yang bisa aku harapkan darimu
Berkacalah pada alur sejarah
Bacalah kisah yang telah kau tulis dalam benakku
Rasakanlah jejak luka yang kau pahat
Bayangkanlah bila itu yang aku perbuat
Bila kamu dapat memaafkannya akupun sama
Tapi tidak, karena aku manusia biasa
Jakarta, 09122014
Sudahlah kau campakan aku,
kini hendak kau raih untuk dicampakan kembali
Tidak, sekali-kali tidak
Sudah cukup kau buat aku menderita
Jangan pula kau katakan cinta padaku
Cinta macam apa yang kau tawarkan
Cinta permainan itulah yang kau punya
Tidak lebih, tidak kurang
Jadi apa yang dapat aku harapkan darimu
Sudah terpahat dalam benaku,
bersamamu penderitaanlah yang akan aku rasakan sepanjang jalan sisa umurku
Jadi masihkah ada yang bisa aku harapkan darimu
Berkacalah pada alur sejarah
Bacalah kisah yang telah kau tulis dalam benakku
Rasakanlah jejak luka yang kau pahat
Bayangkanlah bila itu yang aku perbuat
Bila kamu dapat memaafkannya akupun sama
Tapi tidak, karena aku manusia biasa
Jakarta, 09122014
Minggu, 24 Agustus 2014
Salam
Seakan masih terdengar di telinga, tawamu, candamu
Masih terbayang di pelupuk mata setiap gerak tubuh bahkan seyumanmu Dan ketika kembali aku tersadar....
Rambut memutih, gemerutuk tulang-belulang yang kian merapu
Seraut wajah di cermin nampak tua penuh keriput
Dari wajah yang tak pernah kukenal sebelumnya
Siapa kamu, tanyaku pada bayangan di cermin yang usang
Suaraku terdengar bagai dengungan lebah, lemah dan bergetar
Sunyi, sepih tak ada jawaban hanya suara 1,2 dengus napas yang kian lelah
Suara napasku
Kemudian rasa takut menikamku dari depan, belakang, samping, atas, bawah menghujam deras kepusat hati
Aku yang menua, rapuh ditelan ganasnya masa
Aku mulai sadar dalam ketakutan
Tak mungkin 'kan kembali masa yang tertinggal
Kini aku tinggal menunggu ajal datang
Selamat datang, salam.....
Masih terbayang di pelupuk mata setiap gerak tubuh bahkan seyumanmu Dan ketika kembali aku tersadar....
Rambut memutih, gemerutuk tulang-belulang yang kian merapu
Seraut wajah di cermin nampak tua penuh keriput
Dari wajah yang tak pernah kukenal sebelumnya
Siapa kamu, tanyaku pada bayangan di cermin yang usang
Suaraku terdengar bagai dengungan lebah, lemah dan bergetar
Sunyi, sepih tak ada jawaban hanya suara 1,2 dengus napas yang kian lelah
Suara napasku
Kemudian rasa takut menikamku dari depan, belakang, samping, atas, bawah menghujam deras kepusat hati
Aku yang menua, rapuh ditelan ganasnya masa
Aku mulai sadar dalam ketakutan
Tak mungkin 'kan kembali masa yang tertinggal
Kini aku tinggal menunggu ajal datang
Selamat datang, salam.....
Na'
Teringat saat jumpa pertama
Dia yang tinggi semamapi sembawaku sampai ke alam mimpi
Aku tak tahu kenapa senyumannya seakan nyanyian bidadari dari tan sorgawi
Tarikan nafasnya seakan lagu panggilan bahagia
Jangan tanyakan padaku, karena aku pun tak tahu mengapa
Cinta sering kali membuat orang lupa diri
cinta kadang menjelma bagai hasutan iblis pada Adam di Taman Eden, atau
Bagai cahaya petunjuk jalan kehidupan
Dan cintaku bagai lautan tak bertepi
Aku terjebak dalam arus ombak, pasang-surut dan tsunami
Padamu Na'
Dia yang tinggi semamapi sembawaku sampai ke alam mimpi
Aku tak tahu kenapa senyumannya seakan nyanyian bidadari dari tan sorgawi
Tarikan nafasnya seakan lagu panggilan bahagia
Jangan tanyakan padaku, karena aku pun tak tahu mengapa
Cinta sering kali membuat orang lupa diri
cinta kadang menjelma bagai hasutan iblis pada Adam di Taman Eden, atau
Bagai cahaya petunjuk jalan kehidupan
Dan cintaku bagai lautan tak bertepi
Aku terjebak dalam arus ombak, pasang-surut dan tsunami
Padamu Na'
Pada Derap Sang Waktu
Pada derap langkah malam menuju waktu subhu
Aku terjebak dalam kesedihan yg sangat dalam.
Aku yg naif, menyangka semua hal terlihat sebaik yg aku sangka
Seperti yg aku lihat pada awal cerita tapi nyata ada perangkap yg baru aku sadari kini
Perangkap yg siap menelan idealisku secara bulat-bulat!
tidakkah ada sedikit saja belas kasihmu untuk aku yg sedang berusaha jadi orang yg patuh
Aku terjebak dalam kesedihan yg sangat dalam.
Aku yg naif, menyangka semua hal terlihat sebaik yg aku sangka
Seperti yg aku lihat pada awal cerita tapi nyata ada perangkap yg baru aku sadari kini
Perangkap yg siap menelan idealisku secara bulat-bulat!
tidakkah ada sedikit saja belas kasihmu untuk aku yg sedang berusaha jadi orang yg patuh
Ibu, Tahukah Kau 2
Bu, disini...(menepuk dada)
Sang iblis,
Malaikat
Bersarang.
Bu, disini...
Segala dendam-kebencian, cinta-kasih berperang.
Bu, tahukah kau, aku limbung memikul beban sebagai medan laga
Sang iblis,
Malaikat
Bersarang.
Bu, disini...
Segala dendam-kebencian, cinta-kasih berperang.
Bu, tahukah kau, aku limbung memikul beban sebagai medan laga
Ibu, tahukah Kau
ibu, aku masih tetap anakmu
masih anak-anak seprti dulu
masih suka maenan dan permaenan
jika dulu maenanku pintol-pistolan atau senapan dari pelepah daun pisang
sedangkan maenanku kini persaingan yang brutal, kesempatan yang datang-pergi secepat kilat dan keadaan yang tak kenal belas kasihan.
ibu, dalam pangkuanmu aku pernah menangis karena maenanku direbut orang
kini siapapun yang merebut maenanku akan aku gilas dengan kuasaku. karena aku ibu, hidup di zaman yang tak pernah terlintas dalam pikiranmu, zaman yang tak kenal belas kasihan.
pilihanku hanya dua menyerah-kalah atau melawan-berjuang, yang bermuara pada akhir kekalahan atau keluar sebagai pemenang.
pilihanku adalah jadi pemenang atau pecundang!
_ocehanmenjelangmagrib_
masih anak-anak seprti dulu
masih suka maenan dan permaenan
jika dulu maenanku pintol-pistolan atau senapan dari pelepah daun pisang
sedangkan maenanku kini persaingan yang brutal, kesempatan yang datang-pergi secepat kilat dan keadaan yang tak kenal belas kasihan.
ibu, dalam pangkuanmu aku pernah menangis karena maenanku direbut orang
kini siapapun yang merebut maenanku akan aku gilas dengan kuasaku. karena aku ibu, hidup di zaman yang tak pernah terlintas dalam pikiranmu, zaman yang tak kenal belas kasihan.
pilihanku hanya dua menyerah-kalah atau melawan-berjuang, yang bermuara pada akhir kekalahan atau keluar sebagai pemenang.
pilihanku adalah jadi pemenang atau pecundang!
_ocehanmenjelangmagrib_
Pada Ayah
Rinduku mendendam
Seumpama kemarau pada hujan
Rinduku tak terbilang
Seumpama buih di lautan
Rinduku padamu...
Seumpama kemarau pada hujan
Rinduku tak terbilang
Seumpama buih di lautan
Rinduku padamu...
Tentangku Tentangmu
pernahkah kamu merasa detak jantung berpacu lebih cepat?
atau hati terasa berdesir saat melihat seseorang?
saat ini aku rasakan itu, saat melihatmu
pernahkah kamu bermimpi?
pernahkah kamu berharap mimpi itu jadi kenyataan?
saat ini aku merasa kamu adalah kenyataan dari mimpiku
seberapa banyak kita memiliki harapan?
seberapa banyak kita memiliki kesempatan untuk mewujudkan harapan itu?
jika pertemuanku denganmu sebagai salah satu kesempatan untuk mewujudkan harapanku
dengan seizinmu aku ingin menggunakan kesempatan itu
kita tidak pernah tahu bagaimana nasib kita kelak
dengan siapa kita berjodoh
tapi untuk saat ini aku merasa kamulah jodohku
atau hati terasa berdesir saat melihat seseorang?
saat ini aku rasakan itu, saat melihatmu
pernahkah kamu bermimpi?
pernahkah kamu berharap mimpi itu jadi kenyataan?
saat ini aku merasa kamu adalah kenyataan dari mimpiku
seberapa banyak kita memiliki harapan?
seberapa banyak kita memiliki kesempatan untuk mewujudkan harapan itu?
jika pertemuanku denganmu sebagai salah satu kesempatan untuk mewujudkan harapanku
dengan seizinmu aku ingin menggunakan kesempatan itu
kita tidak pernah tahu bagaimana nasib kita kelak
dengan siapa kita berjodoh
tapi untuk saat ini aku merasa kamulah jodohku
Senin, 12 Agustus 2013
~¤Kota¤~
Aku ingin pergi jauh meninggalkan kota yang pernah memeluku saat aku terjatuh
Mungkin suatu saat nanti aku akan kembali atau tidak sama sekali
Hanya saja untuk saat ini aku tak kuasa memandang setiap sudut kota yang memahat lukaku
Zonder kerabat, zonder sahabat
Apa yang bisa aku harapkan dari semua itu
Tidak! sama sekali aku tidak mendendam
Hanya saja seperti kataku tadi, untuk saat ini aku tak kuasa memandang setiap sudut kota yang memahat lukaku
Luka karena sahabat, luka karena kerabat
Seorang diri aku merasa dikhianati
Terjatuh aku bertubi-tubi
Didera bermacam-macam masalah
Hingga saat aku sampai dibatas pertahananku
Aku mengaduh mengelu pada kota yang pernah memeluku saat aku terjatuh
Yang datang padaku hanya umpatan dan hinaan
Sendiri aku terkapar dibatas kesabaran
Hingga pada akhirnya kuputuskan untuk mengucapkan selamat tinggal
Pada kota yang pernah memeluku saat aku terjatuh
Dermayu 1108'13
Mungkin suatu saat nanti aku akan kembali atau tidak sama sekali
Hanya saja untuk saat ini aku tak kuasa memandang setiap sudut kota yang memahat lukaku
Zonder kerabat, zonder sahabat
Apa yang bisa aku harapkan dari semua itu
Tidak! sama sekali aku tidak mendendam
Hanya saja seperti kataku tadi, untuk saat ini aku tak kuasa memandang setiap sudut kota yang memahat lukaku
Luka karena sahabat, luka karena kerabat
Seorang diri aku merasa dikhianati
Terjatuh aku bertubi-tubi
Didera bermacam-macam masalah
Hingga saat aku sampai dibatas pertahananku
Aku mengaduh mengelu pada kota yang pernah memeluku saat aku terjatuh
Yang datang padaku hanya umpatan dan hinaan
Sendiri aku terkapar dibatas kesabaran
Hingga pada akhirnya kuputuskan untuk mengucapkan selamat tinggal
Pada kota yang pernah memeluku saat aku terjatuh
Dermayu 1108'13
~¤Cinta Dalam Diam¤~
Aku jatuh hati padamu sungguh
Saat pertama kali melihat dirimu
Bukan hanya karena kecantikan wajah atau putih mulus warna kulitmu
Tapi juga karena cinta datang begitu saja dengan sendirinya
Hanya saja seperti yang kau tahu, aku terlalu pengecut untuk berterus terang tentang apa yang aku rasakan
Hanya saja seperti yang kau tahu aku terlalu pengecut untuk menggodamu atau sekedar datang menyapa
Tapi aku hanya laki-laki biasa yang bisa jatuh cinta
Kau yang kupuja dalam diam, diam-diam aku memikirkanmu
Diam-diam aku merindukanmu/ Diam-diam aku mencintaimu
Tahukah kau, aku tak kuasa menahan rasa yang terpendam
kepadamu, sungguh hanya kepadamu hati ini terpaut
Tidak pada yang lain, tidak untuk yang lain
Aku tak tahu sampai kapan aku mampu menahan beban cinta dalam diam
Yang aku tahu cintaku padamu tak terbilang, tak tertimbang
Dermayu 1108'13
Saat pertama kali melihat dirimu
Bukan hanya karena kecantikan wajah atau putih mulus warna kulitmu
Tapi juga karena cinta datang begitu saja dengan sendirinya
Hanya saja seperti yang kau tahu, aku terlalu pengecut untuk berterus terang tentang apa yang aku rasakan
Hanya saja seperti yang kau tahu aku terlalu pengecut untuk menggodamu atau sekedar datang menyapa
Tapi aku hanya laki-laki biasa yang bisa jatuh cinta
Kau yang kupuja dalam diam, diam-diam aku memikirkanmu
Diam-diam aku merindukanmu/ Diam-diam aku mencintaimu
Tahukah kau, aku tak kuasa menahan rasa yang terpendam
kepadamu, sungguh hanya kepadamu hati ini terpaut
Tidak pada yang lain, tidak untuk yang lain
Aku tak tahu sampai kapan aku mampu menahan beban cinta dalam diam
Yang aku tahu cintaku padamu tak terbilang, tak tertimbang
Dermayu 1108'13
Jumat, 09 Agustus 2013
~Kisah Cinta Siti Nurbaya yang Lain~
Tak disangkah saat kerinduan terbayar tuntas
Cintaku padamu ikut kandas
Bersama datangnya satu kabar Dikala kau selipkan sebuah kartu undangan pernikahan
Kartu undangan itu bagaikan bara api di tanganku
Panas perihnya kurasakan di hati
sebagai pria tak mungkin aku meneteskan air mata
tapi sebagai manusia hatiku menjerit, menangis seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan
Tapi cintaku padamu bukan permainan
Bukan juga barang dagangan
Itu yang tidak kau pahami
Itu yang membuat kamu mau untuk dijodohkan
Itu yang membuat aku sadar bahwa cintamu padaku tidak seperti yang aku harapkan
Cintaku padamu ikut kandas
Bersama datangnya satu kabar Dikala kau selipkan sebuah kartu undangan pernikahan
Kartu undangan itu bagaikan bara api di tanganku
Panas perihnya kurasakan di hati
sebagai pria tak mungkin aku meneteskan air mata
tapi sebagai manusia hatiku menjerit, menangis seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan
Tapi cintaku padamu bukan permainan
Bukan juga barang dagangan
Itu yang tidak kau pahami
Itu yang membuat kamu mau untuk dijodohkan
Itu yang membuat aku sadar bahwa cintamu padaku tidak seperti yang aku harapkan
Rabu, 26 Juni 2013
Bukan Cinta Biasa
Cintaku padamu sungguh tak terbilang, tak
tertimbang
Lebih dari yang kau ketahui
Lebih dari yang kau pahami
Cintaku padamu bukan cinta biasa
Cintaku padamu adalah nyala api yang membakar
Rinduku adalah rindu yang mendendam
Cemburuku adalah cemburu buta karena takut kehilangan
Demi cintaku padamu 'kan kuhadang sejuta armada perang
'kan kutantang maut yang mengancam
Karena cintaku padamu matilah kau dalam pelukanku
Karena bila aku tak memiliki, tak kubiarkan orang lain memilikimu
Lebih dari yang kau pahami
Cintaku padamu bukan cinta biasa
Cintaku padamu adalah nyala api yang membakar
Cemburuku adalah cemburu buta karena takut kehilangan
Demi cintaku padamu 'kan kuhadang sejuta armada perang
'kan kutantang maut yang mengancam
Karena cintaku padamu matilah kau dalam pelukanku
Karena bila aku tak memiliki, tak kubiarkan orang lain memilikimu
Selasa, 11 September 2012
Cinta Manusia Biasa
Aku mencintaimu bukan tanpa keinginan
balasan cinta darimu
Aku mencintaimu bukan tanpa amarah
bila cintaku tak berbalas cintamu
Karena aku hanyalah manusia
yang biasa
berharap rasa yang sama
Cintaku ini
cinta manusia
Cintaku ini
cinta manusia biasa
Aku mencintaimu bukan tanpa rasa benci
bila dirimu menolak cintaku
Aku rindu padamu bukan tanpa cemburu
bila dirimu berada jauh dariku
Karena aku hanyalah manusia
yang biasa dipenuhi rasa curiga
Cintaku ini cinta manusia
Cintaku ini cinta manusia biasa
Rabu, 29 Agustus 2012
JALAN CINTA
Cintaku berjalan di atas takdir sang waktu
Tak 'kan hilang oleh berubahnya zaman dan keadaan
Ini bukan soal bagaimana kita menerima
Tapi bagaimana kita memberi dan memahami cinta
Dan bila mati pintu menuju keabadian
'Kan kuketuk, kupanggil yang dicinta
Rindu ini wahai kekasih bagai api!
Selasa, 28 Agustus 2012
Senin, 27 Agustus 2012
PESTA KAUM PECUNDANG
Kita
kuliti kulit saudara sendiri
Kita
minum darah, darah saudara kita
Jerit
tangis adalah lagu dalam pesta, pesta kita
Mari
tuan mari pesta baru saja dimulai
Selagi
ada peluru, amis darah dan mesiu
Kesombongan
kita tak akan musnah
Mari
tuan mari
Nyanyikan
lagu kematian
Untuk
mereka yang mati
Untuk
jiwa kita yang mati
Selasa, 21 Agustus 2012
SANG PENGGODA
Halus
tanganmu meraba, mendesah
Merayu,
mengiba penuh pesona
Tak
perduli pelu menalir di pipi, di kening
Dan kerling mata itu mengingatkan aku
akan Chori
Saat
ada deru menderu menghentak di dadaku, dan lagi tak perduli
Biar
setan setan menghampiri
Biar
iblis iblis menanti
Biarkan
aku
Senin, 20 Agustus 2012
TERBELENGGU
Terbelenggu
gerak jawaku
Oleh
nafsu yang mengikat
Oleh
cinta yang membutakan
Oleh
segala keinginan
Mungkin
mata hatiku telah buta
Oleh
gemerlap warna dunia
Gemerlap
yang melemahkan hasrat kejiwaan
Hasrat
dari roh ketuhanan
Wahai
diri aku bertanya
Sampai
dimana engkau terlena
Akankah
sampai waktunya tiba
Hingga
engkau kembali menjadi tanah
Jiwaku
yang malang terbelenggu sang badan
Menangis
ia dalam penyesalan
Mengapa
aku dijadikan
Aku,
katanya
Ingin
kembali dalam pangkuan
Dalam kesucian di hadapan Tuhan
Minggu, 19 Agustus 2012
SELAMANYA
Perasaanku tak 'kan berubah
Seperti sekarang untuk selamanya
Siramilah bunga cintaku
Siramilah bunga cintamu
Seperti sekarang untuk selamanya
Jangan lepaskan genggaman tanganmu
Jangan lepaskan erat pelukanku
Seperti sekarang untuk selamanya
Menyanyilah, menarilah
Buat kita selalu bahagia
Seperti sekarang untuk
selamanya
Sabtu, 11 Agustus 2012
PESAN UNTUK ANAK CUCU
Jangan pernah kau nak berharap jadi penyair
Bahasanya tidak pernah dimengerti oleh zamannya
Dihujat sebagai pembual pemain kata-kata
Jangan nak jangan kau impikan
Hidup mereka sepi dalam keramaian
Tidak diterima oleh sesamanya
Tidak diacuhkan oleh zamannya
Tidak sekali-kali tidak
Cukup chairil saja yang jadi tumbal, amir hamzah, aku atau kaumku
Bolehlah kau berharap jadi koruptor setidak tidaknya ada yang mereka banggakan
Jangan sekali kali kau ke alam kami
Karena dunia kami dunia khayalan, kata mereka
Tak ada waktu untuk membela diri saat vonis ini dijatuhkan
Apa hendak dikata, kata kami ini anugerah
Tapi anugerah tidak selamanya mendatangkan kebahagiaan
Karena seperti kataku tadi
Penyair itu selalu hidup dalam kesepian
Tidak diterima oleh sesamanya
Tidak diacuhkan oleh zamannya
Istana Hati
Maukah kamu menunjukan jalan kepadaku
Jalan menuju istana hatimu
Kalau aku telah sampai disana,
Maukah kamu membukakan pintunya untukku
Jangan terburu-buru karena aku mau menunggu
Kalau masih ada ruang kosong, sebuah kamar atau tak apalah kalau yang tersisa hanya cela di ruang tamu
Izinkan aku untuk singgah, menginap atau tinggal untuk selamanya
Dan jika kamu mencari dirimu dalam diriku
Selamilah bening danau mataku
Ikuti arus sungai darahku
Walau lelah jangan berhenti sampai kamu bertemu istana bernama hati
Bukalah pintunya, maka di sana akan kamu temui dirimu bertahta
Jalan menuju istana hatimu
Kalau aku telah sampai disana,
Maukah kamu membukakan pintunya untukku
Jangan terburu-buru karena aku mau menunggu
Kalau masih ada ruang kosong, sebuah kamar atau tak apalah kalau yang tersisa hanya cela di ruang tamu
Izinkan aku untuk singgah, menginap atau tinggal untuk selamanya
Dan jika kamu mencari dirimu dalam diriku
Selamilah bening danau mataku
Ikuti arus sungai darahku
Walau lelah jangan berhenti sampai kamu bertemu istana bernama hati
Bukalah pintunya, maka di sana akan kamu temui dirimu bertahta
Langganan:
Postingan (Atom)


